Paradigma “indirect learning” dan Pembentukan Sikap Siswa

September 26, 2013 Tinggalkan komentar

Pemerintah telah menggulirkan Kurikulum 2013 khususnya pada sekolah-sekolah piloting yang ditunjuk. Sedangkan sekolah-sekolah yang tidak ditunjuk dapat menerapkan kurikulum baru ini secara mandiri. Penulis sendiri adalah salah satu guru di Sekolah Dasar swasta yang menerapkan kurikulum 2013 secara mandiri. Sejak awal saya tertarik dengan tulisan Saudari Tri Marhaeni P. Astuti tentang Memahami Paradigma “Indirect Learning” (Suara Merdeka, 30 April 2013). Namun saya baru memberikan tanggapan karena saya ingin mencocokkannya dengan pengalaman di lapangan setelah mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam pembelajaran.

Berdasarkan pengalaman pembelajaran, Kurikulum 2013 dirasa dapat mengurangi “verbalisme” atau dengan kata lain dapat mengurangi pembelajaran yang monoton dengan metode ceramah.  Alur pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific dapat membawa siswa menjadi subyek pembelajaran melalui praktik langsung. Pendekatan scientific yang tercermin dalam kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, menyajikan, dan  mengomunikasikan dapat mengubah pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Alur pembelajaran tersebut diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna sekaligus menanamkan nilai-nilai sikap baik spiritual maupun sosial.

Kompetensi sikap spiritual dan sosial yang tercermin dalam Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 dalam setiap Kompetensi Dasarnya tidak memiliki materi pokok yang diberikan dalam pembelajaran, tetapi diajarkan secara indirect learning. Setiap guru yang mengimplementasikan kurikulum 2013 harus mampu menyajikan materi pada KD di KI 3 dan proses pembelajaran pada KD di KI 4 yang mengarah pada pencapaian KD pada KI 1 dan 2 tanpa mengajarkan secara langsung. Guru serta merta menjadi ujung tombak untuk mencapai kompetensi sikap spiritual dan sosial pada diri setiap siswa.

Kemampuan guru dalam menghubungkan setiap materi pada KI 3 dan proses pembelajaran pada KI 4 perlu dibina, karena jika materi dan proses pembelajaran yang disajikan tidak dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual dan sosial maka kompetensi sikap yang diinginkan sulit untuk dicapai. Sebagaimana kita tahu bahwa bidang sains dan teknologi masih dipimpin oleh dunia barat dimana setiap aspek dalam keilmuan yang bersifat ilmiah bersifat obyektif dan terlepas dari nilai-nilai moral. Maka pembelajaran scientific yang diterapkan pada kurikulum 2013 dikhawatirkan justru akan membawa semangat barat yang sekuler. Kekhawatiran ini muncul jika guru tidak dapat mengaitkan pembelajaran scientific dengan nilai-nilai moral ketimuran yang agamis.

Pengurangan “verbalisme” pada kurikulum 2013 perlu diartikan secara bijak. Artinya proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa perlu terus dikawal untuk dapat mencapai kompetensi sikap spiritual dan sosial. Langkah yang harus diambil oleh setiap guru adalah mencantumkan internalisasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam pembelajaran. Meskipun pembentukan sikap siswa dilaksanakan secara tidak langsung karena tidak ada materi pokok yang diajarkan, tetapi tetap diperlukan internalisasi nilai-nilai sikap.

Tugas guru bukan hanya membimbing siswa untuk dapat mengasosiasikan setiap konsep dan proses pembelajaran yang diajarkan sehingga setiap konsep dapat membentuk konektivitas yang menjadi pemahaman dan penalaran siswa. Tetapi lebih dari itu guru bertugas untuk membimbing siswa agar dapat mengasosiasikan antara konsep dan proses pembelajaran dengan nilai-nilai sikap spiritual dan sosial.

Tantangan yang dihadapi guru dalam pembentukan sikap siswa adalah adanya pengaruh dari luar, dimana banyak fenomena sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai sikap yang sedang dikembangkan. Contoh pada KD 1.1 mata pelajaran IPA : “bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya”.  Dalam Kompetensi Dasar ini terdapat nilai-nilai berupa sikap spiritual yaitu keimanan dengan menyadari kebesaran Tuhan dan mengamalkan ajaran agama yang dianut. Maka guru perlu menginternalisasikan nilai-nilai spiritual ini dalam setiap materi dan proses pembelajaran pada KI 3 dan KI 4 mata pelajaran IPA.

Tantangan dari luar adalah adanya fenomena sosial segolongan manusia yang tidak percaya kepada Tuhan yang tentu tidak sesuai dengan fitrah diciptakannya manusia dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila khususnya sila pertama. Ada pula segolongan manusia yang secara lisan beriman kepada Tuhan tetapi dalam kesehariannya tidak mencerminkan sebagai manusia yang beriman dengan meninggalkan konsekuensi dan kewajibannya sebagai manusia yang beriman. Bahkan banyak fenomena sosial kemaksiatan yang justru menunjukkan adanya ketidaktaatan terhadap ajaran agama dan sebaliknya melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Maka guru perlu dengan seksama memberikan internalisasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam setiap pembelajaran yang dilaksanakan agar siswa dapat memaknai setiap materi dan proses pembelajaran menjadi kesadaran untuk menjadi hamba Tuhan yang taat dan sekaligus sebagai warga negara yang memiliki sikap sosial yang luhur untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat.

Sikap Spiritual dan Sosial sebagai Bekal Generasi Muda

Fenomena sosial masyarakat yang menunjukkan ketidaktaatan terhadap ajaran agama seperti perbuatan kemaksiatan, kejahatan, dan kezaliman serta sikap sosial yang tercela seperti kolusi, korupsi, suap, dan perbuatan tidak bertanggungjawab lainnya diakui atau tidak sangat sulit untuk diberantas. Menyadari hal ini maka peran guru sebagai pendidik sangat potensial untuk menyiapkan generasi muda Indonesia menuju suatu era dimana setiap elemen bangsa mampu mengimplementasikan nilai-nilai ketuhanan sebagaimana Pancasila sila pertama dengan semangat keberagamaan yang tinggi. Demikian pula suatu era dimana warga negara memiliki sikap sosial  yang luhur yang melandaskan setiap tindakannya pada budi pekerti, akhlak terpuji dan mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, masyarakat atau bahkan tindakan yang menjadikan bangsa ini terpuruk.

Guru memiliki posisi strategis karena dalam keseharian mereka memiliki cukup banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa. Guru harus memanfaatkan setiap momentum pembelajaran untuk menginternalisasikan nilai-nilai sikap spiritual dan sosial ke dalam benak sanubari siswa dan memberikan keteladanan yang baik. Setiap siswa yang masih muda belia membutuhkan model-model warga negara yang mampu menerapkan sikap spiritual dan sosial yang luhur. Keberhasilan dalam pembentukan sikap spiritual dan sosial dalam diri siswa akan membantu mewujudkan cita-cita kita bersama untuk mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat di masa yang akan datang.

Memori dan Modalitas Menghafal Al Quran

September 25, 2013 Tinggalkan komentar

Memori jangka pendek dan jangka panjang

Kemampuan manusia untuk menghafal didukung oleh kekuatan memori dalam otak. Memori merupakan kemampuan untuk menyimpan dan mendapatkan kembali informasi yang berkaitan dengan pengalaman sebelumnya. Memori manusia terdiri dari dua jenis yaitu memori jangka pendek (short-term memory) dan memori jangka panjang  (long-term memory).

Memori jangka pendek dapat menggambarkan hasil penangkapan indra yang bersifat segera mengenai suatu objek atau ide yang terjadi sebelum bayangan objek atau ide tersebut disimpan. Sebagai contoh memori jangka pendek ketika seseorang menekan 12 digit nomor telepon di handphone tanpa melihat segera setelah membaca nomor tersebut di buku telepon. Jika nomor tersebut sering dihubungi, maka nomor tersebut akan disimpan dalam memori jangka panjang dan masih dapat diingat beberapa minggu setelah saat pertama membacanya. Hal yang terpenting untuk kita ketahui adalah bahwa pemindahan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dapat ditingkatkan melalui pengulangan.

Menghafalkan Al Quran dapat melibatkan memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek digunakan tatkala kita membaca satu ayat kemudian menghafalnya. Hafalan ini akan berpindah menjadi memori jangka panjang jika satu ayat yang dihafal ini mengalami pengulangan-pengulangan. Demikian pula untuk hafalan satu ruku’, satu halaman, atau satu surat dalam Al Quran. Tanpa adanya pengulangan-pengulangan maka hafalan hanya akan bersifat sementara karena yang terlibat adalah memori jangka pendek yang bersifat segera dan belum tersimpan.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dipahami bahwa menghafal Al Quran harus menjadi rutinitas. Tugas seorang penghafal bukan hanya hafal pada saat itu. Dia harus memindahkan hafalannya menjadi hafalan jangka panjang yang dapat dengan mudah dipanggil kembali (recall) pada saat dibutuhkan. Menghafal Al Quran bukan hanya menghafal 30 juz kemudian berhenti, tetapi memelihara hafalan tersebut sehingga menjadi hafalan jangka panjang. Itu semua tidak akan tercapai tanpa adanya pengulangan.

 

Modalitas menghafal Al Quran

            Kita sudah mengenal berbagai modalitas belajar. Maka kita perlu mengenal pula modalitas menghafal. Modalitas belajar setidaknya ada tiga yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Modalitas menghafal setidaknya ada lima, yaitu visual, verbal, auditori, kinestetik, dan hati. Menghafal dengan melibatkan kelima unsur ini akan menghasilkan hafalan yang lebih baik.

Langkah awal adalah membaca tulisan untuk memenuhi modalitas visual. Melihat satu ayat dengan serta merta terbentuk memori jangka pendek, terbentuk bayangan ayat itu tetapi belum tersimpan. Modalitas visual dapat digabung dengan modalitas auditori, yaitu dengan melihat ayat sambil mendengarkan audionya yang banyak tersedia. Langkah kedua adalah membaca tanpa melihat tulisan untuk memenuhi modalitas verbal. Membaca ayat yang sedang dihafal tanpa melihat tulisan di mushaf karena telah memiliki memori jangka pendek. Kemudian dilakukan pengulangan-pengulangan untuk memindahkan hafalan jangka pendek menjadi hafalan jangka panjang.

Bagaimana dengan modalitas auditori? Sebenarnya kegiatan mendengarkan sudah serta merta dilakukan pada saat kita membaca tanpa melihat tulisan dan pada waktu kita melakukan pengulangan-pengulangan, yaitu ketika kita membaca tanpa melihat tulisan, secara bersamaan kita sedang mendengarkan suara hafalan kita sendiri. Sehingga semakin sering kita melakukan pengulangan, semakin sering pula kita menggabungkan modalitas verbal dan auditori yang cukup efektif. Tetapi kegiatan mendengarkan juga dapat dilakukan secara terpisah, yaitu mendengarkan suara hafalan dari rekaman atau audio yang banyak tersedia.

Lalu apa yang dimaksud dengan modalitas kinestetik dalam menghafal? Modalitas ini dapat dilakukan dengan menuliskan ayat yang dihafal. Langkah ini cukup efektif karena pada saat kita menuliskan ayat tersebut, sebenarnya kita sedang melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu menulis, melihat tulisan kita sendiri, dan membaca dalam hati ayat yang kita tulis atau bahkan membaca secara jahr apa yang kita tulis. Jika kita membayangkan menghafal ayat per ayat kemudian menuliskannya, mungkin terbersit rasa enggan karena berarti harus menulis ribuan ayat. Tetapi langkah ini sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin untuk kita lakukan karena sudah pernah dilakukan hampir 15 abad yang lalu oleh para sahabat khususnya sahabat Zaid bin Tsabit r.a.

Membaca dalam hati ayat yang ditulis akan mengantarkan pada kemampuan untuk pengulangan hafalan dalam hati. Pengulangan hafalan dalam hati adalah kegiatan mental yang cukup unik dan membutuhkan pembiasaan, yang dapat kita lakukan pada saat kita mendengarkan murottal, pada saat kita sedang menjadi makmum, atau pada saat kita mengikuti kegiatan tasmi’ Al Quran. Pembiasaan ini akan menjadikan kita merasa nyaman dengan hafalan kita, bahkan ketika kita sedang mengendarai kendaraan bermotor sekalipun.

Membaca dan menghafal dalam hati adalah suatu kemampuan yang membuktikan bahwa kita sudah melibatkan modalitas hati dalam menghafal Al Quran. Lebih penting dari itu, melibatkan hati dalam menghafal adalah membangun keikhlasan dalam hati kita, membangun kekuatan ruhiyah dalam menghafal, dan menghafal dengan motivasi intrinsik dari dalam hati kita sendiri sebagai perwujudan iman dan taqwa, sehingga upaya menghafal Al Quran yang kita lakukan bukan hanya sebatas kegiatan visual yang berhenti di mata, bukan hanya kegiatan auditori yang berhenti di telinga, bukan hanya kegiatan verbal yang berhenti di lisan, dan bukan pula kegiatan kinestetik yang hanya berhenti di tulisan dan suara.           

Siswa SD berlatih disiplin Lalu lintas

September 23, 2013 Tinggalkan komentar

Banyak sekali pemberitaan mengenai kecelakaan lalu lintas akhir-akhir ini, kasus terbaru yang  melibatkan anak dari musisi terkenal yang menyebabkan banyak nyawa melayang. fenomena  terbaru adalah banyaknya foto speedometer yang menunjukkan kecepatan tinggi dalam berkendara yang diupload di social media. Perilaku-perilaku kurang disiplin dalam berlalu lintas ini adalah kondisi yang memprihatinkan, apalagi perilaku tersebut ditunjukkan oleh generasi muda penerus bangsa. Apa jadinya bangsa dan Negara ini jika generasinya dalam berlalu lintas saja tidak bisa tertib.

Peragaan dari Tim Instruktur Satlantas Polres Banyumas

Peragaan dari Tim Instruktur Satlantas Polres Banyumas

Berangkat dari keprihatinan inilah maka SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto  bekerjasama dengan Satlantas Polres Banyumas, memberikan perhatian khusus pada masalah ini. Dengan mengadakan pelatihan tertib berlalu lintas sedini mungkin pada siswa-siswa SD melalui kegiatan Discipline Day . Maka pada hari Sabtu pagi, 21 September 2013 ruang pelayanan SIM satlantas Banyumas pun ramai dikunjungi 138 siswa kelas 4 SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Dengan riang gembira mereka mengikuti seluruh kegiatan yang dibuka langsung oleh Kasatlantas AKP Chalid Mawardi, SH, yang dalam sambutannya sangat gembira apabila anak-anak sudah mau belajar tertib berlalu lintas dari kecil. Materi kelalu lintasan dibawakan dengan apik oleh Tim satlantas yang dipimpin oleh IPTU Supardi.

Discipline day level IV

Pelatihan Kedisiplinan Lalu lintas oleh Satlantas POLRES Banyumas

Anak-anak praktek menggunakan rambu-rambu lalu lintas dan dijelaskan langsung oleh bapak polisi dan ibu polisi. Bahkan beberapa siswa secara sukarela maju kedepan untuk membawakan puisi dan lagu tentang tertib lalu lintas. Tentu saja ini sangat membangkitkan minat dan antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan yang merupakan program rutin tahunan dari SD Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Ustadz Rahmat Safari Selaku Wakil Kepala Sekolah Level 4 memastikan bahwa program-program yang mempunyai manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa akan terus dikawal dan digalakkan pelaksanaannya. Sedangkan Kepala Sekolah, ustadz Sudrajat mengungkapkan bahwa kedisplinan adalah salah satu karakter yang harus dibangun pada diri siswa, baik rumah, sekolah, terutama di lingkungan masyarakat. Siswa juga perlu dikenalkan dengan kedisplinan berlalu lintas agar dapat menciptakan sikap berlalu lintas yang aman dan tertib.

Acara berlangsung ramai dan meriah, siswa juga mengikuti kegiatan dengan antusias hingga akhir seluruh murid pulang dengan perasaan riang gembira. (Imalia DI-Humas Level 4)

Kategori:Gagasan

Ajang Tahfizh dan Tasmi’ para Huffazh Muda

September 22, 2013 Tinggalkan komentar

“Yang hebat yang menghafal Qur’an dengan giat”, itulah slogan yang didengungkan oleh 138 siswa kelas 4 SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Kamis pagi, 19 September 2013. Seolah menjadi hari istimewa, mereka menampilkan kemampuan terbaik dalam hafalan Al Quran pada acara Ajang Tahfizh dan Tasmi’ Al Qur’an. Kegiatan berlangsung di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto. Raut wajah penuh keceriaan ditampakkan oleh setiap siswa yang pada hari itu tidak belajar di kelas seperti biasanya, melainkan outclass di masjid yang sejuk dan mendamaikan.

Semangat membaca dan menghafal Al Quran sangat dijiwai oleh para generasi muda muslim tersebut. Beberapa murid yang ditunjuk maju ke depan dengan percaya diri untuk menampilkan hafalan Al Quran juz 30 diawali oleh ananda Alfandi Handy Fabian dari kelas 4 Ibnu Abbas dan ananda Nadiva Aulia dari kelas 4 Ibnu Umar yang melantunkan Surat AnNaba dan dilanjutkan penampilan oleh beberapa siswa yang melantunkan Surat AnNazi’at sampai Al Insyiqoq. Seluruh siswa pada saat itu mendengarkan dengan khusyu’ ayat-ayat yang dilantunkan sambil membuka Al Quran masing-masing.

Tasmi' Al Quran

Tasmi’ Al Quran

“Kegiatan ini merupakan ajang aktualisasi diri bagi siswa yang selama ini telah berusaha untuk menghafal AlQuran. Melalui ajang tahfizh dan tasmi’ ini diharapkan para siswa semakin termotivasi untuk menghafal Al Quran” ungkap ustazh Rahmat Safari selaku wakil Kepala Sekolah level IV. “Tahfizhul Quran merupakan salah satu program unggulan di SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Pembelajaran yang dilaksanakan diantaranya Ajang Tahfizh dan Tasmi’, tahfizh harian, dan tahun ini akan mengadakan pemilihan siswa teladan Al Quran” kata ustadz Rahmat Safari.

Peserta ATT menyimak hafalan Quran

Peserta ATT menyimak hafalan Quran

Sedangkan Kepala Sekolah, ustadz Sudrajat menambahkan bahwa kegiatan menghafal AlQuran perlu sedini mungkin dibiasakan pada diri siswa, karena masa anak-anak adalah masa keemasan dengan kemampuan memori yang kuat. Hafalan AlQuran yang diperoleh pada masa kecil diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi mereka di masa depan, sehingga terwujud generasi yang Qurani tanpa meninggalkan penguasaan ilmu pengetahuan. “Bagi siswa yang dapat menghafal AlQuran dengan baik dan mencapai prestasi di bidang Al Qur’an akan mendapatkan reward dari sekolah sebagai bentuk pengghargaan dan motivasi bagi siswa yang lain agar semakin giat menghafal Al Quran” ungkap ustadz Sudrajat.

Acara tersebut juga diisi dengan lantunan hafalan dari ustadz Arian Sahidi Alhafizh yang membawakan Surat Al Qiyamah sampai Al Mursalat. Setelah menampilkan hafalannya, ustadz Arian yang juga merupakan seorang penulis buku menceritakan pengalamannya selama menghafal AlQuran. Tak berhenti sampai disitu saja, para siswa mendapatkan pengalaman berharga bagaimana menghafal AlQuran dengan mudah dan menyenangkan. Acara ditutup dengan pembagian reward bagi siswa yang tampil ke depan.

Kategori:Gagasan

Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh

September 22, 2013 Tinggalkan komentar

Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh

Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak kita semua untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan semakin mengenalNya. Salah satu cara untuk mengenal Dzat yang Maha Berilmu adalah dengan mengenal diri kita sendiri. Mengapa demikian? Jawaban yang paling utama pastilah bersumber dari Al Quran. Alloh SWT menegaskan dalam Q.S. AdzDzariyat ayat 20-21 yang artinya : “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang yakin” (20), “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (21). Sangat penting untuk melandaskan pemikiran kita kepada ayat suci Al Quran, karena Al Quranlah sumber ilmu yang tidak ada keraguan di dalamnya. Meyakini kebenaran isi dan kandungan Al Quran bagi seorang muslim adalah sebuah harga mati.

Tulisan ini tidak akan membahas tafsir atau kandungan dari dua ayat di atas, tapi setidaknya menjadi landasan dan bingkai pemikiran menuju ke pembahasan yang lebih luas dan lebih mendekat terhadap ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang ilmiah menjadi pengantar bagi kita untuk mengenal diri kita. Tetapi berbeda dengan orang kafir yang meletakkan ilmu pengetahuan sebagai obyek yang terbebas dari nilai-nilai ruhani, tidak mengaitkan pengetahuan ilmiah dan hasil-hasil eksperimennya sebagai penguat keyakinan agama. Seorang muslim akan menempatkan pengetahuan yang telah terbukti secara ilmiah sebagai teropong untuk lebih mengenal kebesaran Dzat yang Maha Mengetahui. Seorang muslim dengan sepenuh hati menyadari bahwa kemampuan akal untuk menangkap fakta-fakta ilmiah, mengungkap keajaiban alam semesta, dan mengeksplorasi pengetahuan adalah anugerah Alloh SWT sebagai pengantar menuju keimanan yang lebih tinggi.

Pelajaran berharga dari sistem saraf

Jaringan saraf yang ada pada tubuh kita sendiri memberikan pelajaran berharga tentang kebesaran Alloh SWT. Sistem saraf manusia bisa jadi merupakan kumpulan materi yang diorganisasikan paling rumit di bumi ini yang membuat komputer yang paling rumit sekalipun kelihatan primitif. Sistem saraf inilah yang secara biologis membuat kita mampu belajar, berpikir, mengingat, dan menjadi sadar akan diri kita sendiri dan lingkungan di sekitar kita.

Kemampuan manusia untuk melakukan aktivitas baik fisik maupun intelektual yang didukung oleh sistem saraf mungkin menjadikan sebagian manusia merasa memiliki daya dan kekuatan untuk melakukan sesuatu. Bahkan manusia yang genius bisa jadi akan merasa bangga dengan kejeniusannya karena memiliki kapasitas berpikir yang lebih tinggi dari orang lain. Tetapi jika kita mengenali diri kita sendiri tentang sistem saraf, maka semestinya akan hilang semua kesombongan dalam diri kita. Mengapa demikian? Karena dalam perjalanan sistem saraf untuk menghasilkan suatu persepsi, pikiran, gerakan, atau output motoris harus melewati proses integrasi dalam Sistem Saraf Pusat (SSP) atau central nervous system. SSP terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang yang berfungsi untuk menerjemahkan informasi yang berasal dari stimulasi reseptor sensoris oleh lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon tubuh yang sesuai. Proses yang terjadi di dalam SSP adalah proses yang murni berlangsung di luar kesadaran dan kontrol manusia, bahkan manusia yang paling hebat sekalipun. Maka siapakah yang mengontrolnya? Bukanlah nenek moyang kita yang merancangnya, bukan pula orangtua kita, bukan para scientis, ahli biologi, peraih nobel  dan kita mengingat sepenuhnya bahwa bukan kita sendiri yang merancangnya. Tidak ada sama sekali peran manusia untuk membangun SSP yang mampu menghasilkan buah karya yang luar biasa. Karena hanya Alloh yang mampu melakukannya dengan mudah. Maka patutkah bagi manusia untuk merasa sombong dengan kedigdayaannya?

Otot polos dan otot lurik, apa hikmahnya?

Bagaimana dengan otot kita, yang membuat kita mampu bergerak dan berkarya. Otot yang nampu menggerakkan tangan kita untuk menghasilkan suatu produk. Otot yang menggerakkan kaki kita sehingga bisa berjalan kemanapun yang dikehendaki, dan semua aktivitas motoris yang kita lakukan dengan dukungan jaringan otot. Lalu mengapa sebagian manusia sampai membanggakan dirinya atas hasil karya tangannya dan hasil usahanya.

Mengenal diri sendiri tentang jaringan otot yang ada pada tubuh kita, dapat menguatkan pandangan hidup kita, bahwa betapa fakirnya kita di hadapan Alloh SWT. Pada saat makan, mengunyah, menelan, semua itu dilakukan dengan sengaja di bawah kontrol kesadaran. Kemampuan itu adalah anugerah Alloh yang telah menciptakan otot rangka atau otot lurik (skeletal muscle) yang bekerja di bawah pengaruh saraf sadar (somatic nervous system). Jika makanan telah kita telan, apa yang dapat kita lakukan di bawah kesadaran? Tugas selanjutnya telah diserahkan sepenuhnya kepada fungsi otot halus (smooth muscle) mulai dari kerongkongan (esophagus). Meskipun otot pada bagian paling atas esophagus adalah otot lurik (otot sadar) sehingga tindakan penelanan (ingestion) dimulai secara sadar, tetapi kemudian gelombang kontraksi tak sadar oleh otot polos pada sisa esophagus selanjutnya akan menggantikannya. Sampai ke lambung pada proses pencernaan (digestion) dan usus pada proses penyerapan (absorption) dilakukan oleh fungsi otot halus yang bekerja di bawah saraf tidak sadar.

Hanya sebagian kecil dari proses makan yang dilakukan secara sadar oleh manusia, sebagian besar dilakukan secara tanpa sadar di bawah kekuasaan Alloh SWT, yang telah merancang dan mendetailkan dengan tingkat ketelitian yang sempurna. Maka jika manusia memiliki energi untuk beraktivitas yang berasal dari nutrisi yang dimakannya, hanya sedikit proses yang dilakukan di bawah kontrol manusia, yaitu mulai dari bibir, rongga mulut, sampai sebatas tenggorokan bagian atas, tidak lebih dari itu. Lalu masihkan ada alasan yang bisa diungkapkan  untuk membantah kebesaran Alloh SWT.

Bisakah hidup tanpa Oksigen ?

Kemudian marilah beralih ke proses bernafas, pertukaran O2 dan CO2, bisa kita hitung hanya sedikit bagian yang bisa dilakukan secara sadar di bawah kontrol kesadaran. Demikian pula kerja organ yang paling vital yaitu jantung. Kapankan kita mengontrol jantung kita sehingga bisa berdenyut saat kita terbangun maupun saat kita tertidur. Kapankan kita mengontrol kecepatan denyut jantung kita, kapankan kita mengontrol proses pompa aliran darah yang kaya oksigen mengalir ke seluruh tubuh dan mengalirkan darah yang kaya CO2 menuju ke jantung dan dialirkan ke paru-paru menjadi darah yang kaya oksigen? Betepa vitalnya jantung untuk kehdiupan manusia, tapi manusia tak mampu mengontrolnya. Sebagian besar organ bekerja dan berfungsi dengan tanpa sadar, di luar kontrol manusia, padahal semua organ itu berada pada tubuhnya sendiri sebagai bagian dari dirinya sendiri, lalu apa yang patut untuk kita sombongakan di hadapan kebesaran Alloh SWT? Subhanalloh.

INDAHNYA MERAIH SURGA MELALUI BIRRUL WALIDAIN

Desember 5, 2011 1 komentar

Oleh : Y A N T O, S.Pd.I

(Untuk Lomba Artikel Adzkia Indonesia)

Birrul Walidain; Ekspresi iman penuh makna.

Saudaraku, di tengah-tengah kehidupan yang serba canggih dan instan ini disadari atau pun tidak ternyata banyak di antara kita sebagai hamba yang beriman terkadang terlupakan akan satu hal yang sangat berarti dalam mengekspresikan keimanan kita kepada Allah. Bentuk ekspresi yang dimaksud adalah birrul walidain yakni berbakti kepada kedua orang tua. Birrul walidain adalah kewajiban yang Allah tempatkan kedudukannya setelah kita beribadah kepada-Nya dan rasul-Nya. Sebuah maqom khusus dimana sesungguhnya bukan hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban sebagaimana perintah Allah dalam firmannya Q.S Al Isra ayat 23 bahwa Allah memerintahkan kepada manusia agar beribadah hanya untuk-Nya dan berbuat baik kepada kedua orangtua dengan sebaik-baiknya, tetapi lebih dari itu dapat dimaknai bahwa birrul walidain sebagai ekspresi ketaqwaan dan keimanan, bukti kecintaan dan kesetiaan, wujud ketaatan, ketundukan dan kepatuhan, investasi nyata di masa yang akan datang (akhirat), serta perencanaan reuni abadi di surga penuh kebahagiaan hakiki. Oleh karenanya bakti ini harus terus diamalkan dan dimanifestasikan selama mereka orangtua kita masih hidup maupun setelah tiada.

 Birrul walidain juga merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan seseorang dari kobaran api neraka. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya yang menyatakan bahwa keridhaan Allah itu pada hakikatnya terletak pada keridhaan kedua orangtuanya dan kemurkaan-Nya pun terletak pada kemurkaan mereka. Sungguh teramat hebat dampaknya bagi kita terhadap apa yang diperbuat kepadanya. Membahagiakan kedua orangtua bukan sekedar membahagiakan mereka, tetapi justru membahagiakan diri sendiri karena barangsiapa yang bahagia dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya, maka dialah orang yang beriman.

Berbahagialah bagi yang berbakti kepada orangtua, ketika senyum di antara kita dengan orangtua merekah, saat do’a mereka mengiringi dalam setiap langkah, hanyalah ridho dari keduanya akan tergapai kehidupan yang senantiasa barokah, maka itulah kebahagiaan yang tidak terbeli dengan materi yang berlimpah. Apalagi jika teringat akan hadits Nabi bahwa berbakti atau durhaka kepada kedua orangtua itu adalah satu-satunya amalan yang segera tampakkan balasannya ketika di dunia. Wow, benar-benar luar biasa dahsyatnya. Oleh karenanya, mari kita buka memori, barangkali kita pernah mengalami untuk tidak memungkiri atas apa yang telah kita lakukan terhadap mereka.

 

Bagaimana birrul walidain dilakukan?

Tuntunan rabbani ini yakni birrul walidain diaplikasikan dalam bentuk berbakti kepada mereka, mematuhi selama perintah yang diberikan bukan untuk bermaksiat kepada Allah, merawat di kala mereka terkena sakit, mengucapkan kepada mereka dengan perkataan yang mulia, menjamin hak-hak mereka, memenuhi kebutuhan mereka adalah pusat kekuatan energi kehidupan yang menghidupkan hati agar lebih hidup penuh makna sejati. Kita pun mampu mengambil berbagai ibrah dari berbagai perilaku para salafus salih yang telah memberikan keteladanan kepada generasi demi generasi agar mencontoh pribadi mereka yang mulia.

Bentuk ketaatan dalam mematuhi perintah kepada orangtua harus dilaksanakan selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya. Sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada al-Khalik. Implementasi kesetiaan kepada mereka diwujudkan melalui menaati perintahnya, mendahulukannya dari fardhu kifayah dan sunnah. Bagi anak laki-laki yag sudah menikah pun harus lebih mengedapankan dan memprioritaskan berbakti kepada kedua orangtuanya, khususnya ibu, daripada istri dan anak-anaknya. Bahkan hak orangtua lebih besar dan lebih utama jika dibandingkan dengan hak-hak keluarga, hingga ketaatan kepada mereka pun harus didahulukan daripada jihad dan hijrah pada kondisi dan syarat tertentu memang harus seizin serta restu untuk mendapatkan ridhanya.

Selain itu terdapat bentuk ketaatan yang sudah seharusnya kita tunjukkan kepada orangtua dengan cara memberi nafkah dan memenuhi kebutuhan mereka, sebagaimana Rasulullah saw bersabda berdasarkan riwayat ad Dailami disebutkan bahwa “Ibu dan bapak berhak makan dari harta milik anak mereka dengan cara yang ma’ruf, adapun seorang anak tidak boleh makan dari harta ibu bapaknya kecuali dengan izin mereka”. Namun demikian orangtua tidak boleh dengan semena-mena menguasai harta anaknya untuk kepentingan pribadinya akan tetapi harus dengan cara yang adil. Pemberian nafkah kepada orangtua dalam memenuhi kebutuhan mereka juga terkandung maksud agar anak senantiasa menyambung tali silaturahim di antara mereka tentunya menghiasi kata-kata yang disampaikan kepada mereka dengan ungkapan perkataan yang mulia tidak mengatakan ‘uf” dan melakukan perbuatan mencela kepadanya, menyegerakan ketika mereka menyahut dan bermuka manis serta menyenangkan dalam bersilaturahim merupakan pintu kebahagiaan dan kegembiraan orangtua meskipun mereka masih berakidah musyrik maupun kafir. Hal ini pernah dicontohkan oleh sahabat Abu Hurairah dan Asma’ binti Abu Bakar kepada ibunya yang kala itu masih musyrik.

Ada pula birrul walidain diwujudkan dengan cara mendahulukan kepentingan mereka untuk melakukan yang terbaik bagi mereka daripada kepentingan dan kebutuhan diri sendiri. Seperti halnya Abu Ghassan yang diingatkan oleh sahabat Abu Hurairah dalam berbakti kepada kedua orangtuanya agar tidak membelakangi ayahnya, jangan mengambil tulang (yang dagingnya tinggal sedikit) yang dilihat oleh ayahnya barangkali ia menginginkannya, jangan memandangi dengan tajam kepada mereka, jangan tidur dan duduk mendahuluinya. Itu semua dilakukan oleh seorang anak sebagai manifestasi ketaatan dan pengorbanan untuk orang tua sampai-sampai di dalam hadits disebutkan Imam Muslim meriwayatkan bahwa seseorang baru dikatakan membalas kebaikan bapaknya, kala mendapati bapaknya menjadi budak, lalu dia beli dan dia bebaskan. Inilah paradigma bakti yang sebenarnya, kita curahkan perhatian dan kasih sayang kepada mereka.

Raih Surga Melalui Pintu Paling Tengah

Berbakti kepada orangtua adalah jalan menuju pintu surga yang paling tengah. Seperti halnya seorang salafus salih yang bernama Abdulah bin Mubarok menangis sejadi-jadinya dikarenakan ibunya meninggal dunia. Ketika beliau ditanya mengapa menangis, beliau menjawab bahwa dengan meninggalnya ibu berarti pintu surga yang tadinya dua pintu menjadi tinggal satu pintu yang ada pada ayahnya. Sedemikian berartinya orangtua bagi anak tentunya menginspirasikan untuk selalu berbuat yang terbaik agar senantiasa mendapatkan maghfirah (ampunan) dan surga yang telah dijanjikan oleh Allah. Hal ini dipertegas oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bahwa orangtua adalah pintu surge yang paling tengah. Terserah padamu, apakah kau sia-siakan pintu itu atau memeliharanya.

Siapa yang berbakti kepada mereka dialah yang akan mendapatkan energi. Yakni energi kebahagiaan yang sejati dan hakiki. Adapun bagi seseorang yang durhaka maka bersiap-siaplah untuk hidup sengsara penuh derita dan kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat nantinya.

Semangat Cinta Al Quran Tanpa Kekerasan

Ummat Muhammad telah dimuliakan dengan AlQur’an karena  mukjizat ini telah mengentaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya. AlQur’an juga menjadi sumber keimanan dan amal sholih. Firman Alloh SWT : “Seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Alloh kepadamu yang menerangkan (bermacam-macam hukum), agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dari kegelapan kepada cahaya” (Q.S. 65 Ath-Thalaq : 11).

Jika AlQuran telah diturunkan sebagai anugerah yang tidak ternilai, sudahkah tumbuh dalam diri kita sifat cinta AlQuran dengan segala konsekuensinya. Ataukah justru tanpa sadar kita terbawa arus manusia yang lalai dalam kebiasaan yang jauh dari AlQuran? Mari kita renungkan pesan dari sahabat Ibnu Mas’ud r.a : “Barangsiapa ingin mengetahui bahwa ia cinta kepada Allah, maka hendaklah mengukur dirinya dengan AlQur’an. Jika ia cinta kepada AlQur’an, berarti ia cinta kepada Allah”.

Kita patut prihatin kepada ummat saat ini. Tatkala peradaban manusia semakin berkembang,  manusia sibuk dengan berbagai urusan. Seluruh bidang kehidupan menyita perhatian dengan menekankan kepentingan duniawi. Imbasnya, kebanyakan manusia tidak menyediakan tempat di hatinya untuk AlQur’an. Hatinya lebih condong kepada kecintaan terhadap keluarga, materi, kedudukan, bahkan waktu-waktu luang yang dimiliki dimanfaatkan untuk menikmati hiburan (entertainment). Sedangkan AlQur’an dimasukkan dalam bidang yang terspesialisasikan yakni menjadi urusan lembaga-lembaga keagamaan seperti pondok pesantren, Perguruan Tinggi Islam, ulama, mubaligh dan orang-orang khusus yang mendalami agama.

Kiat Menumbuhkan Cinta AlQur’an

Saatnya bagi kita mengukuhkan kepribadian cinta AlQur’an. Sesibuk dan sebanyak apapun aktivitas, kita tetap menjunjungtinggi AlQur’an. Bahkan AlQur’an yang akan memandu kita agar senantiasa berada di jalan Alloh SWT. Maka ada beberapa tips agar tumbuh dalam diri kita sifat cinta AlQur’an :

a. Bertawakal dan meminta pertolongan Alloh SWT. Kita berusaha senantiasa berinteraksi dengan AlQuran dan meminta pertolongan Alloh dengan sungguh-sungguh dan berdoa kepadaNya untuk dianugerahi sifat cinta AlQur’an.

b.  Menghadirkan penyebab cinta AlQur’an, salah satu yang paling utama adalah ilmu. Caranya dengan membaca tentang keagungan AlQur’an yang disebutkan dalam AlQur’an, As-Sunnah dan perkataan para ulama tentang cinta dan pengagungan terhadap AlQur’an. Ambillah pelajaran dari para sahabat dan ulama akan kecintaan mereka terhadap AlQuran dan kebaikan-kebaikan yang diperoleh dengan mencintai AlQuran.

c.  Menjadikan AlQuran sebagai kebutuhan, yakni perasaan muslim yang membutuhkan AlQuran sebagai petunjuk dan pedoman kehidupan. Menjauhkan dari perasaan terbebani dengan kewajiban terhadap AlQuran. Tanyakan diri sendiri, apa jadinya keberagamaan kita tanpa AlQuran?

d.  Memahami dan berusaha mewujudkan ciri-ciri muslim cinta AlQur’an. Diantaranya : Pertama, gembira bila bersua AlQuran. Kedua, duduk membacanya dalam waktu lama tanpa bosan dan jemu. Ketiga, merasa rindu bila terhalang membacanya beberapa waktu dan berusaha selalu dekat dengannya. Keempat, selalu merujuk AlQur’an dan memgambil nasihat-nasihat yang ada di dalamnya bila menemukan kesulitan hidup, baik berat ataupun ringan. Kelima,  menaati hukum-hukum dalam AlQur’an baik perintah ataupun larangan.

Cinta Al Quran sebagai Karakter Muslim

Metode turunnya AlQuran mengandung hikmah agung, yakni secara berangsur-angsur agar dapat dipahami, dilaksanakan dengan mudah dan menjadi solusi permasalahan yang dihadapi. Generasi sahabat merupakan sosok ideal yang berhasil mengambil hikmah ini. AlQur’an yang turun secara bertahap, mendidik mereka dengan pembiasaan untuk selalu bertindak sesuai petunjuk AlQur’an. Cinta AlQur’an telah menjadi karakter atau akhlak mereka sehingga menjadi teladan bagi manusia muslim agar memiliki karakter cinta AlQuran.

Seorang muslim yang mencintai AlQur’an akan menjadikan AlQur’an sebagai dasar  perilaku, baik hablumminalloh maupun hablumminannas. Hatinya dihiasi cinta AlQur’an terwujud dalam tingkahlaku. Karakternya terbentuk oleh AlQur’an sebagai pencerminan dari hati yang cinta AlQur’an. Ia dapat menentukan tindakan yang benar dalam situasi apapun karena jiwa dan pikirannya dipandu oleh AlQuran. Setiap tindakan yang timbul merupakan hasil dari kedekatannya dengan AlQuran dan muncul secara spontan tanpa pemikiran panjang.

Cinta AlQur’an bukan hanya meliputi perasaan dalam hati atau hubungan khusus antara seorang muslim dengan kitabsucinya. Lebih dari itu cinta AlQuran mestinya terejawantahkan dalam akhlak dan kepribadian seorang muslim.

Menebar Kasih Sayang dengan Cinta AlQuran

Akhir-akhir ini banyak terjadi peristiwa kekerasan atas nama agama. Agama dijadikan dalih dan pembenaran untuk menyakiti sesama manusia. Akibatnya secara sosial terbentuk citra atau anggapan di sebagian masyarakat bahwa agama adalah sumber kekerasan. Bahkan seseorang yang menganut agama dengan baik dan taat dengan membawa simbol-simbol Islam di sebagian tempat dicurigai dan timbul prasangka di lingkungan sekitarnya. Situasi ini telah dimanfaatkan oleh musuh Islam untuk merongrong dan melemahkan kekuatan islam. Bagaimana kita memecahkan permasalahan ini?

Sesungguhnya AlQuran diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Firman Alloh : “Dan tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (Q.S.21 Al-Anbiya : 107). Sebagaimana pribadi Rosululloh SAW yang memliki akhlak   AlQur’an, beliau sangat menginginkan kebahagiaan bagi ummatnya dan seluruh manusia dan tidak menginginkan ummatnya menderita. Firman Alloh : “Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”(Q.S. 9 At-Taubah : 128). Karakter Rosululloh SAW sebagaimana diterangkan di atas tidak terbantahkan berdasarkan tinta emas catatan sejarah perjuangan beliau.

Seorang muslim yang cinta AlQur’an tentu memahami AlQur’an diturunkan sebagai bukti kasihsayang Alloh kepada manusia. Sehingga perbuatan kekerasan atas nama Islam tidaklah dibenarkan karena tidak sesuai dengan semangat AlQur’an. Maka setiap muslim wajib untuk menjaga kehormatan dirinya dan memperjuangkan agama Islam dengan santun, simpatik, memanusiakan dan menghindari tatacara kekerasan yang justru mencoreng nama baik Islam sendiri.

Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, di kantor, di sekolah, dan di lingkungan pergaulan, marilah kita wujudkan semangat cinta AlQuran dengan menebarkan kasihsayang terutama kepada saudara seiman, jauhi kekerasan atau perbuatan yang dapat menyakiti sesama baik secara fisik maupun psikologis tanpa alasan yang benar menurut Alloh dan RosulNya. Jadi, mari kita aktualisasikan kembali semangat cinta AlQur’an tanpa kekerasan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.