Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh Part 2

Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang yakin” (20), “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”            (Q.S. Adz-Dzariyaat : 21)

Pada bagian satu kita telah membahas bahwa manusia dengan kemampuan berfikirnya memanfaatkan sistem saraf yang begitu rumit dan supercanggih. Perjalanan sistem saraf yang kita miliki ternyata menunjukkan kefakiran kita di hadapan Alloh SWT. Alasannya karena sistem saraf mutlak berjalan di bawah rancangan dan sunnatulloh. Hanya sebagian kecil dari perjalanan sistem saraf yang berada di bawah kehendak manusia, itupun tentu saja atas ijin Alloh SWT. Demikian juga pada jaringan otot yang menjadikan kita mampu bergerak dan pada organ-organ yang berada pada tubuh kita sendiri, hanya seagian kecil yang mampu kita kontrol dengan kesadaran kita karena mutlak peran dan kekuasaan Alloh sangat dominan di sana.

The Magnificent of Differrent

Kadang kita menemui berita yang menghebohkan di berbagai media tentang seorang ibu yang melahirkan bayi kembar empat, lima, atau enam. Luar biasa, perjuangan sang ibu dan bayinya yang kembar lebih dari tiga, Subhanalloh. Dalam pikiran kita akan terbersit kebesaran Alloh yang telah menciptakan rahim yang begitu kokoh dan dengan mudah menciptakan manusia dan kembar pula. Pertanyaannya, sebenarnya mana yang paling luar biasa, bayi yang kembar tiga, empat, lima, atau bayi yang tumbuh menjadi manusia yang berbeda-beda, milyaran jumlahnya.

Jika kita diminta membuat bangun datar simetris di atas kertas yang lebar, 5 bangun datar yang sama/kembar, itu mudah sekali. 10 bangun datar yang sama, itu juga masih mudah, bahkan jika kita diminta membuat 100 bangun datar, 1000, itu juga mudah. Apalagi jika diminta membuat dengan komputer, tinggal copy paste, jadi. Tapi bagaimana jika kita diminta membuat 100 bentuk bangun datar simetris yang berbeda, pasti sulit, 1000 bentuk bagun datar simetris yang berbeda, akan lebih sulit. Semakin banyak yang diminta semakin menyulitkan kita, meski dengan komputer sekalipun, dan itu baru sekedar bangun datar, sangat sederhana.

Alloh menciptakan sekian milyar manusia dalam bentuk yang sempurna dengan begitu mudah tanpa membutuhkan serikat dan peran serta dari selain Alloh. Milyaran manusia yang berbeda-beda karakternya, tidak ada yang wajahnya sama, tidak ada yang wataknya sama, tidak ada yang sidik jarinya sama. Bahkan manusia kembarpun pasti ada perbedaannya. Itu adalah desain dengan ketelitian yang Mahateliti. Hikmahnya, kita bisa saling mengenal satu sama lain. Coba bayangkan jika manusia diciptakan dalam rupa yang sama, meskipun setiap bayi yang lahir diberi nama yang berbeda, akan tetap menyulitkan bagi kita untuk saling mengenal sehingga kita menjadi bingung dalam bergaul dengan saudara dan teman yang serupa wajahnya. Melalui rupa yang berbeda-beda, kita bisa saling mengenal dengan melihat karakter masing-masing yang memiliki ciri khas yang berbeda. Sesuai dengan firman Alloh : “Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Alloh Maha Mengetahui, Mahateliti”. (Q.S. Al-Hujurot : 13).

Penciptaan manusia dengan karakter yang berbeda-beda dapat kita perhatikan di setiap benua pasti memiliki ciri khas masing-masing. Benua Afrika, Eropa, Asia, Amerika, Australia dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki penampilan yang berbeda. Perbedaan ini bukanlah dikarenakan faktor alam atau adaptasi yang memunculkan perbedaan seiring dengan berjalannya waktu. Kalau ada pengaruh alam dan adaptasi itu bukanlah faktor utama. Tetapi manusia menjadi berbeda-beda karakternya karena memang Alloh menciptakan rancangan (desain) yang teliti sehingga manusia akan lahir dengan karakter yang berbeda-beda. Manusia memang ditakdirkan dan didesain penciptaannya untuk menjadi berbeda-beda, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa, bukan karena faktor alam atau adaptasi. Paragraf selanjutnya akan menguraikan tiga desain luar biasa yang menjadikan tidak ada satupun manusia yang serupa (identik) karakternya.

Greatdesign in Metafase I of Meiosis

Setiap manusia dilahirkan dengan mewarisi sifat-sifat dari kedua orangtuanya. Tetapi tidak ada bayi lahir dan tumbuh dewasa yang serupa dengan ibunya atau ayahnya. Kita boleh mengatakan seorang anak mirip dengan ibunya atau mirip dengan ayahnya, tapi tidak akan pernah mengatakan seorang anak serupa (identik) dengan ayahnya atau ibunya. Hal ini sudah dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi variasi genetik diantara manusia. Salah satu rancangan tersebut terjadi pada proses pembelahan meiosis (pembelahan sel reproduktif yang menghasilkan sel gamet pada ayah atau ibu) pada tahap metafase I.

Pembelahan meiosis menghasilkan pemilahan kromosom paternal dan maternal secara bebas ke dalam sel gamet sehingga setiap sel gamet hasil pembelahan memiliki paket gen lengkap yang akan diwariskan kepada keturunan. Masing-masing gamet mewakili satu hasil dari semua kemungkinan kombinasi antara kromosom maternal dan kromosom paternal. Jumlah kemungkinan kombinasi ketika kromosom memilah secara independen menjadi gamet selama meiosis pada manusia adalah 223 atau sekitar 8 juta kemungkinan. Karena itu, setiap gamet yang dihasilkan oleh manusia memuat satu dari 8 juta kemungkinan pemilahan kromosom yang diwarisi dari bapak dan ibu individu tersebut.

Jadi intinya mengapa manusia dilahirkan berbeda-beda karakternya karena masing-masing dari kita adalah satu dari 8 juta kemungkinan variasi genetik yang mungkin diturunkan oleh ayah atau ibu kita. Dengan 8 juta kemungkinan dari masing-masing individu ini tentu sangat mudah bagi Alloh untuk menciptakan manusia dengan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku tanpa ada satupun yang serupa. Meskipun demikian, satu dari 8 juta kemungkinan itu tidaklah ditentukan secara acak karena Alloh Maha Berkehendak sehingga kita dilahirkan ke dunia dengan berbagai karakter yang kita miliki bukanlah hasil dari pemilihan secara acak, tetapi ditentukan dengan kehendak Alloh SWT tanpa ada kesulitan sedikitpun.

 The Miracle of Crossing Over

Setiap dari kita memiliki sifat khas sebagai hasil dari kombinasi antara sifat ayah dan sifat ibu yang diwariskan. Tidak ada satupun dari kita yang mewarisi sifat ayah secara mutlak atau mewarisi sifat ibu secara mutlak, yang terjadi adalah kombinasi dari keduanya. Kombinasi-kombinasi baru sifat yang diwariskan oleh kedua orang tua dinamakan rekombinasi genetik. Salah satu desain yang menimbulkan rekombinasi genetik terjadi pada tahap profase meiosis I melalui peristiwa crossing over (pindah silang). Crossing over memungkinkan adanya pertukaran fragmen antar kromosom sehingga kromosom yang akan diwariskan kepada keturunan berupa kromosom rekombinan. Crossing over mengkombinasikan DNA yang diwarisi dari kedua orang tua menjadi sebuah kromosom rekombinan tunggal yang merupakan sumber variasi genetik yang penting dalam kehidupan manusia.

Alloh SWT menciptakan kita melalui proses yang didesain sedemikian rupa dengan tingkat ketelitian yang mahateliti. Pemahaman terhadap rancangan yang begitu cerdas mampu mengantarkan kita kepada keyakinan murni kepada Alloh SWT sebagai sang Pencipta. Proses-proses alamiah yang terjadi dalam setiap tahap penciptaan manusia, yang terjadi pula dalam tubuh kita sendiri, bukanlah terjadi karena faktor alam atau adaptasi, tetapi memang sudah dirancang oleh Alloh yang Maha Berilmu.

We are The Champion

Sejak lahir, setiap pribadi manusia diciptakan sebagai sang juara. Mengapa demikian? Karena jika kita teliti bahwa dalam proses penciptaannya, kita berasal dari dua sel gamet dari ayah dan ibu. Dari sekian juta sel gamet dari ayah, hanya satu sel gamet dari ayah yang mampu bersatu dengan sel gamet dari ibu dengan berbagai proses yang dirancang superteliti. Jadi setiap manusia yang lahir adalah sang juara.

Alloh memilih kita sebagai sang juara yang lahir dan menjadi seorang manusia dengan karakter khas yang kita miliki masing-masing sebagai seorang pribadi. Maka kita hargai perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kita, karena setiap perbedaan di antara manusia itu adalah hasil dari rancangan atau desain dari Alloh SWT sebagai Sang Kholiq. Namun yang perlu kita ingat bersama bahwa Alloh tidak akan menilai kemuliaan kita dari sifat-sifat yang diturunkan sebagai kombinasi sifat dari kedua orang tua kita. Tetapi yang dinilai sebagai kemuliaan di antara perbedaan itu hanya satu yakni ketakwaannya. Sebagaimana firman Alloh : “Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertakwa” (Q.S. Al Hujurot : 13).

Kategori:Tausiyah

Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh

Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak kita semua untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan semakin mengenalNya. Salah satu cara untuk mengenal Dzat yang Maha Berilmu adalah dengan mengenal diri kita sendiri. Mengapa demikian? Jawaban yang paling utama pastilah bersumber dari Al Quran. Alloh SWT menegaskan dalam Q.S. AdzDzariyat ayat 20-21 yang artinya : “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang yakin” (20), “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (21). Sangat penting untuk melandaskan pemikiran kita kepada ayat suci Al Quran, karena Al Quranlah sumber ilmu yang tidak ada keraguan di dalamnya. Meyakini kebenaran isi dan kandungan Al Quran bagi seorang muslim adalah sebuah harga mati.

Tulisan ini tidak akan membahas tafsir atau kandungan dari dua ayat di atas, tapi setidaknya menjadi landasan dan bingkai pemikiran menuju ke pembahasan yang lebih luas dan lebih mendekat terhadap ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang ilmiah menjadi pengantar bagi kita untuk mengenal diri kita. Tetapi berbeda dengan orang kafir yang meletakkan ilmu pengetahuan sebagai obyek yang terbebas dari nilai-nilai ruhani, tidak mengaitkan pengetahuan ilmiah dan hasil-hasil eksperimennya sebagai penguat keyakinan agama. Seorang muslim akan menempatkan pengetahuan yang telah terbukti secara ilmiah sebagai teropong untuk lebih mengenal kebesaran Dzat yang Maha Mengetahui. Seorang muslim dengan sepenuh hati menyadari bahwa kemampuan akal untuk menangkap fakta-fakta ilmiah, mengungkap keajaiban alam semesta, dan mengeksplorasi pengetahuan adalah anugerah Alloh SWT sebagai pengantar menuju keimanan yang lebih tinggi.

Pelajaran berharga dari sistem saraf

Jaringan saraf yang ada pada tubuh kita sendiri memberikan pelajaran berharga tentang kebesaran Alloh SWT. Sistem saraf manusia bisa jadi merupakan kumpulan materi yang diorganisasikan paling rumit di bumi ini yang membuat komputer yang paling rumit sekalipun kelihatan primitif. Sistem saraf inilah yang secara biologis membuat kita mampu belajar, berpikir, mengingat, dan menjadi sadar akan diri kita sendiri dan lingkungan di sekitar kita.

Kemampuan manusia untuk melakukan aktivitas baik fisik maupun intelektual yang didukung oleh sistem saraf mungkin menjadikan sebagian manusia merasa memiliki daya dan kekuatan untuk melakukan sesuatu. Bahkan manusia yang genius bisa jadi akan merasa bangga dengan kejeniusannya karena memiliki kapasitas berpikir yang lebih tinggi dari orang lain. Tetapi jika kita mengenali diri kita sendiri tentang sistem saraf, maka semestinya akan hilang semua kesombongan dalam diri kita. Mengapa demikian? Karena dalam perjalanan sistem saraf untuk menghasilkan suatu persepsi, pikiran, gerakan, atau output motoris harus melewati proses integrasi dalam Sistem Saraf Pusat (SSP) atau central nervous system. SSP terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang yang berfungsi untuk menerjemahkan informasi yang berasal dari stimulasi reseptor sensoris oleh lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon tubuh yang sesuai. Proses yang terjadi di dalam SSP adalah proses yang murni berlangsung di luar kesadaran dan kontrol manusia, bahkan manusia yang paling hebat sekalipun. Maka siapakah yang mengontrolnya? Bukanlah nenek moyang kita yang merancangnya, bukan pula orangtua kita, bukan para scientis, ahli biologi, peraih nobel dan kita mengingat sepenuhnya bahwa bukan kita sendiri yang merancangnya. Tidak ada sama sekali peran manusia untuk membangun SSP yang mampu menghasilkan buah karya yang luar biasa. Karena hanya Alloh yang mampu melakukannya dengan mudah. Maka patutkah bagi manusia untuk merasa sombong dengan kedigdayaannya?

Otot polos dan otot lurik, apa hikmahnya?

Bagaimana dengan otot kita, yang membuat kita mampu bergerak dan berkarya. Otot yang mampu menggerakkan tangan kita untuk menghasilkan suatu produk. Otot yang menggerakkan kaki kita sehingga bisa berjalan kemanapun yang dikehendaki, dan semua aktivitas motoris yang kita lakukan dengan dukungan jaringan otot. Lalu mengapa sebagian manusia sampai membanggakan dirinya atas hasil karya tangannya dan hasil usahanya.

Mengenal diri sendiri tentang jaringan otot yang ada pada tubuh kita, dapat menguatkan pandangan hidup kita, bahwa betapa fakirnya kita di hadapan Alloh SWT. Pada saat makan, mengunyah, menelan, semua itu dilakukan dengan sengaja di bawah kontrol kesadaran. Kemampuan itu adalah anugerah Alloh yang telah menciptakan otot rangka atau otot lurik (skeletal muscle) yang bekerja di bawah pengaruh saraf sadar (somatic nervous system). Jika makanan telah kita telan, apa yang dapat kita lakukan di bawah kesadaran? Tugas selanjutnya telah diserahkan sepenuhnya kepada fungsi otot halus (smooth muscle) mulai dari kerongkongan (esophagus). Meskipun otot pada bagian paling atas esophagus adalah otot lurik (otot sadar) sehingga tindakan penelanan (ingestion) dimulai secara sadar, tetapi kemudian gelombang kontraksi tak sadar oleh otot polos pada sisa esophagus selanjutnya akan menggantikannya. Sampai ke lambung pada proses pencernaan (digestion) dan usus pada proses penyerapan (absorption) dilakukan oleh fungsi otot halus yang bekerja di bawah saraf tidak sadar.

Hanya sebagian kecil dari proses makan yang dilakukan secara sadar oleh manusia, sebagian besar dilakukan secara tanpa sadar di bawah kekuasaan Alloh SWT, yang telah merancang dan mendetailkan dengan tingkat ketelitian yang sempurna. Maka jika manusia memiliki energi untuk beraktivitas yang berasal dari nutrisi yang dimakannya, hanya sedikit proses yang dilakukan di bawah kontrol manusia, yaitu mulai dari bibir, rongga mulut, sampai sebatas kerongkongan bagian atas, tidak lebih dari itu. Lalu masihkah ada alasan yang bisa diungkapkan untuk membantah kebesaran Alloh SWT.

Bisakah hidup tanpa Oksigen ?

Kemudian marilah kita beralih ke proses pertukaran O2 dan CO2, bisa kita hitung hanya sedikit bagian yang bisa dilakukan secara sadar di bawah kontrol kesadaran. Demikian pula kerja organ yang paling vital yaitu jantung. Kapankan kita mengontrol jantung kita sehingga bisa berdenyut saat kita terbangun maupun saat kita tertidur. Kapankan kita mengontrol kecepatan denyut jantung kita, kapankan kita mengontrol proses pompa aliran darah yang kaya oksigen mengalir ke seluruh tubuh dan mengalirkan darah yang kaya CO2 menuju ke jantung dan dialirkan ke paru-paru menjadi darah yang kaya oksigen? Betapa vitalnya jantung untuk kehidupan manusia, tapi manusia tak mampu mengontrolnya. Sebagian besar organ bekerja dan berfungsi dengan tanpa sadar, di luar kontrol manusia, padahal semua organ itu berada pada tubuhnya sendiri sebagai bagian dari dirinya sendiri, lalu apa yang patut untuk kita sombongakan di hadapan kebesaran Alloh SWT? Subhanalloh.

Kategori:Tausiyah

Paradigma “indirect learning” dan Pembentukan Sikap Siswa

September 26, 2013 Tinggalkan komentar

Pemerintah telah menggulirkan Kurikulum 2013 khususnya pada sekolah-sekolah piloting yang ditunjuk. Sedangkan sekolah-sekolah yang tidak ditunjuk dapat menerapkan kurikulum baru ini secara mandiri. Penulis sendiri adalah salah satu guru di Sekolah Dasar swasta yang menerapkan kurikulum 2013 secara mandiri. Sejak awal saya tertarik dengan tulisan Saudari Tri Marhaeni P. Astuti tentang Memahami Paradigma “Indirect Learning” (Suara Merdeka, 30 April 2013). Namun saya baru memberikan tanggapan karena saya ingin mencocokkannya dengan pengalaman di lapangan setelah mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam pembelajaran.

Berdasarkan pengalaman pembelajaran, Kurikulum 2013 dirasa dapat mengurangi “verbalisme” atau dengan kata lain dapat mengurangi pembelajaran yang monoton dengan metode ceramah.  Alur pembelajaran yang menerapkan pendekatan scientific dapat membawa siswa menjadi subyek pembelajaran melalui praktik langsung. Pendekatan scientific yang tercermin dalam kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, menyajikan, dan  mengomunikasikan dapat mengubah pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Alur pembelajaran tersebut diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna sekaligus menanamkan nilai-nilai sikap baik spiritual maupun sosial.

Kompetensi sikap spiritual dan sosial yang tercermin dalam Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 dalam setiap Kompetensi Dasarnya tidak memiliki materi pokok yang diberikan dalam pembelajaran, tetapi diajarkan secara indirect learning. Setiap guru yang mengimplementasikan kurikulum 2013 harus mampu menyajikan materi pada KD di KI 3 dan proses pembelajaran pada KD di KI 4 yang mengarah pada pencapaian KD pada KI 1 dan 2 tanpa mengajarkan secara langsung. Guru serta merta menjadi ujung tombak untuk mencapai kompetensi sikap spiritual dan sosial pada diri setiap siswa.

Kemampuan guru dalam menghubungkan setiap materi pada KI 3 dan proses pembelajaran pada KI 4 perlu dibina, karena jika materi dan proses pembelajaran yang disajikan tidak dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual dan sosial maka kompetensi sikap yang diinginkan sulit untuk dicapai. Sebagaimana kita tahu bahwa bidang sains dan teknologi masih dipimpin oleh dunia barat dimana setiap aspek dalam keilmuan yang bersifat ilmiah bersifat obyektif dan terlepas dari nilai-nilai moral. Maka pembelajaran scientific yang diterapkan pada kurikulum 2013 dikhawatirkan justru akan membawa semangat barat yang sekuler. Kekhawatiran ini muncul jika guru tidak dapat mengaitkan pembelajaran scientific dengan nilai-nilai moral ketimuran yang agamis.

Pengurangan “verbalisme” pada kurikulum 2013 perlu diartikan secara bijak. Artinya proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa perlu terus dikawal untuk dapat mencapai kompetensi sikap spiritual dan sosial. Langkah yang harus diambil oleh setiap guru adalah mencantumkan internalisasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam pembelajaran. Meskipun pembentukan sikap siswa dilaksanakan secara tidak langsung karena tidak ada materi pokok yang diajarkan, tetapi tetap diperlukan internalisasi nilai-nilai sikap.

Tugas guru bukan hanya membimbing siswa untuk dapat mengasosiasikan setiap konsep dan proses pembelajaran yang diajarkan sehingga setiap konsep dapat membentuk konektivitas yang menjadi pemahaman dan penalaran siswa. Tetapi lebih dari itu guru bertugas untuk membimbing siswa agar dapat mengasosiasikan antara konsep dan proses pembelajaran dengan nilai-nilai sikap spiritual dan sosial.

Tantangan yang dihadapi guru dalam pembentukan sikap siswa adalah adanya pengaruh dari luar, dimana banyak fenomena sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai sikap yang sedang dikembangkan. Contoh pada KD 1.1 mata pelajaran IPA : “bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya”.  Dalam Kompetensi Dasar ini terdapat nilai-nilai berupa sikap spiritual yaitu keimanan dengan menyadari kebesaran Tuhan dan mengamalkan ajaran agama yang dianut. Maka guru perlu menginternalisasikan nilai-nilai spiritual ini dalam setiap materi dan proses pembelajaran pada KI 3 dan KI 4 mata pelajaran IPA.

Tantangan dari luar adalah adanya fenomena sosial segolongan manusia yang tidak percaya kepada Tuhan yang tentu tidak sesuai dengan fitrah diciptakannya manusia dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila khususnya sila pertama. Ada pula segolongan manusia yang secara lisan beriman kepada Tuhan tetapi dalam kesehariannya tidak mencerminkan sebagai manusia yang beriman dengan meninggalkan konsekuensi dan kewajibannya sebagai manusia yang beriman. Bahkan banyak fenomena sosial kemaksiatan yang justru menunjukkan adanya ketidaktaatan terhadap ajaran agama dan sebaliknya melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Maka guru perlu dengan seksama memberikan internalisasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam setiap pembelajaran yang dilaksanakan agar siswa dapat memaknai setiap materi dan proses pembelajaran menjadi kesadaran untuk menjadi hamba Tuhan yang taat dan sekaligus sebagai warga negara yang memiliki sikap sosial yang luhur untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat.

Sikap Spiritual dan Sosial sebagai Bekal Generasi Muda

Fenomena sosial masyarakat yang menunjukkan ketidaktaatan terhadap ajaran agama seperti perbuatan kemaksiatan, kejahatan, dan kezaliman serta sikap sosial yang tercela seperti kolusi, korupsi, suap, dan perbuatan tidak bertanggungjawab lainnya diakui atau tidak sangat sulit untuk diberantas. Menyadari hal ini maka peran guru sebagai pendidik sangat potensial untuk menyiapkan generasi muda Indonesia menuju suatu era dimana setiap elemen bangsa mampu mengimplementasikan nilai-nilai ketuhanan sebagaimana Pancasila sila pertama dengan semangat keberagamaan yang tinggi. Demikian pula suatu era dimana warga negara memiliki sikap sosial  yang luhur yang melandaskan setiap tindakannya pada budi pekerti, akhlak terpuji dan mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, masyarakat atau bahkan tindakan yang menjadikan bangsa ini terpuruk.

Guru memiliki posisi strategis karena dalam keseharian mereka memiliki cukup banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa. Guru harus memanfaatkan setiap momentum pembelajaran untuk menginternalisasikan nilai-nilai sikap spiritual dan sosial ke dalam benak sanubari siswa dan memberikan keteladanan yang baik. Setiap siswa yang masih muda belia membutuhkan model-model warga negara yang mampu menerapkan sikap spiritual dan sosial yang luhur. Keberhasilan dalam pembentukan sikap spiritual dan sosial dalam diri siswa akan membantu mewujudkan cita-cita kita bersama untuk mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat di masa yang akan datang.

Memori dan Modalitas Menghafal Al Quran

September 25, 2013 1 komentar

Memori jangka pendek dan jangka panjang

Kemampuan manusia untuk menghafal didukung oleh kekuatan memori dalam otak. Memori merupakan kemampuan untuk menyimpan dan mendapatkan kembali informasi yang berkaitan dengan pengalaman sebelumnya. Memori manusia terdiri dari dua jenis yaitu memori jangka pendek (short-term memory) dan memori jangka panjang  (long-term memory).

Memori jangka pendek dapat menggambarkan hasil penangkapan indra yang bersifat segera mengenai suatu objek atau ide yang terjadi sebelum bayangan objek atau ide tersebut disimpan. Sebagai contoh memori jangka pendek ketika seseorang menekan 12 digit nomor telepon di handphone tanpa melihat segera setelah membaca nomor tersebut di buku telepon. Jika nomor tersebut sering dihubungi, maka nomor tersebut akan disimpan dalam memori jangka panjang dan masih dapat diingat beberapa minggu setelah saat pertama membacanya. Hal yang terpenting untuk kita ketahui adalah bahwa pemindahan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dapat ditingkatkan melalui pengulangan.

Menghafalkan Al Quran dapat melibatkan memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek digunakan tatkala kita membaca satu ayat kemudian menghafalnya. Hafalan ini akan berpindah menjadi memori jangka panjang jika satu ayat yang dihafal ini mengalami pengulangan-pengulangan. Demikian pula untuk hafalan satu ruku’, satu halaman, atau satu surat dalam Al Quran. Tanpa adanya pengulangan-pengulangan maka hafalan hanya akan bersifat sementara karena yang terlibat adalah memori jangka pendek yang bersifat segera dan belum tersimpan.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dipahami bahwa menghafal Al Quran harus menjadi rutinitas. Tugas seorang penghafal bukan hanya hafal pada saat itu. Dia harus memindahkan hafalannya menjadi hafalan jangka panjang yang dapat dengan mudah dipanggil kembali (recall) pada saat dibutuhkan. Menghafal Al Quran bukan hanya menghafal 30 juz kemudian berhenti, tetapi memelihara hafalan tersebut sehingga menjadi hafalan jangka panjang. Itu semua tidak akan tercapai tanpa adanya pengulangan.

 

Modalitas menghafal Al Quran

            Kita sudah mengenal berbagai modalitas belajar. Maka kita perlu mengenal pula modalitas menghafal. Modalitas belajar setidaknya ada tiga yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Modalitas menghafal setidaknya ada lima, yaitu visual, verbal, auditori, kinestetik, dan hati. Menghafal dengan melibatkan kelima unsur ini akan menghasilkan hafalan yang lebih baik.

Langkah awal adalah membaca tulisan untuk memenuhi modalitas visual. Melihat satu ayat dengan serta merta terbentuk memori jangka pendek, terbentuk bayangan ayat itu tetapi belum tersimpan. Modalitas visual dapat digabung dengan modalitas auditori, yaitu dengan melihat ayat sambil mendengarkan audionya yang banyak tersedia. Langkah kedua adalah membaca tanpa melihat tulisan untuk memenuhi modalitas verbal. Membaca ayat yang sedang dihafal tanpa melihat tulisan di mushaf karena telah memiliki memori jangka pendek. Kemudian dilakukan pengulangan-pengulangan untuk memindahkan hafalan jangka pendek menjadi hafalan jangka panjang.

Bagaimana dengan modalitas auditori? Sebenarnya kegiatan mendengarkan sudah serta merta dilakukan pada saat kita membaca tanpa melihat tulisan dan pada waktu kita melakukan pengulangan-pengulangan, yaitu ketika kita membaca tanpa melihat tulisan, secara bersamaan kita sedang mendengarkan suara hafalan kita sendiri. Sehingga semakin sering kita melakukan pengulangan, semakin sering pula kita menggabungkan modalitas verbal dan auditori yang cukup efektif. Tetapi kegiatan mendengarkan juga dapat dilakukan secara terpisah, yaitu mendengarkan suara hafalan dari rekaman atau audio yang banyak tersedia.

Lalu apa yang dimaksud dengan modalitas kinestetik dalam menghafal? Modalitas ini dapat dilakukan dengan menuliskan ayat yang dihafal. Langkah ini cukup efektif karena pada saat kita menuliskan ayat tersebut, sebenarnya kita sedang melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu menulis, melihat tulisan kita sendiri, dan membaca dalam hati ayat yang kita tulis atau bahkan membaca secara jahr apa yang kita tulis. Jika kita membayangkan menghafal ayat per ayat kemudian menuliskannya, mungkin terbersit rasa enggan karena berarti harus menulis ribuan ayat. Tetapi langkah ini sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin untuk kita lakukan karena sudah pernah dilakukan hampir 15 abad yang lalu oleh para sahabat khususnya sahabat Zaid bin Tsabit r.a.

Membaca dalam hati ayat yang ditulis akan mengantarkan pada kemampuan untuk pengulangan hafalan dalam hati. Pengulangan hafalan dalam hati adalah kegiatan mental yang cukup unik dan membutuhkan pembiasaan, yang dapat kita lakukan pada saat kita mendengarkan murottal, pada saat kita sedang menjadi makmum, atau pada saat kita mengikuti kegiatan tasmi’ Al Quran. Pembiasaan ini akan menjadikan kita merasa nyaman dengan hafalan kita, bahkan ketika kita sedang mengendarai kendaraan bermotor sekalipun.

Membaca dan menghafal dalam hati adalah suatu kemampuan yang membuktikan bahwa kita sudah melibatkan modalitas hati dalam menghafal Al Quran. Lebih penting dari itu, melibatkan hati dalam menghafal adalah membangun keikhlasan dalam hati kita, membangun kekuatan ruhiyah dalam menghafal, dan menghafal dengan motivasi intrinsik dari dalam hati kita sendiri sebagai perwujudan iman dan taqwa, sehingga upaya menghafal Al Quran yang kita lakukan bukan hanya sebatas kegiatan visual yang berhenti di mata, bukan hanya kegiatan auditori yang berhenti di telinga, bukan hanya kegiatan verbal yang berhenti di lisan, dan bukan pula kegiatan kinestetik yang hanya berhenti di tulisan dan suara.           

Siswa SD berlatih disiplin Lalu lintas

September 23, 2013 Tinggalkan komentar

Banyak sekali pemberitaan mengenai kecelakaan lalu lintas akhir-akhir ini, kasus terbaru yang  melibatkan anak dari musisi terkenal yang menyebabkan banyak nyawa melayang. fenomena  terbaru adalah banyaknya foto speedometer yang menunjukkan kecepatan tinggi dalam berkendara yang diupload di social media. Perilaku-perilaku kurang disiplin dalam berlalu lintas ini adalah kondisi yang memprihatinkan, apalagi perilaku tersebut ditunjukkan oleh generasi muda penerus bangsa. Apa jadinya bangsa dan Negara ini jika generasinya dalam berlalu lintas saja tidak bisa tertib.

Peragaan dari Tim Instruktur Satlantas Polres Banyumas

Peragaan dari Tim Instruktur Satlantas Polres Banyumas

Berangkat dari keprihatinan inilah maka SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto  bekerjasama dengan Satlantas Polres Banyumas, memberikan perhatian khusus pada masalah ini. Dengan mengadakan pelatihan tertib berlalu lintas sedini mungkin pada siswa-siswa SD melalui kegiatan Discipline Day . Maka pada hari Sabtu pagi, 21 September 2013 ruang pelayanan SIM satlantas Banyumas pun ramai dikunjungi 138 siswa kelas 4 SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Dengan riang gembira mereka mengikuti seluruh kegiatan yang dibuka langsung oleh Kasatlantas AKP Chalid Mawardi, SH, yang dalam sambutannya sangat gembira apabila anak-anak sudah mau belajar tertib berlalu lintas dari kecil. Materi kelalu lintasan dibawakan dengan apik oleh Tim satlantas yang dipimpin oleh IPTU Supardi.

Discipline day level IV

Pelatihan Kedisiplinan Lalu lintas oleh Satlantas POLRES Banyumas

Anak-anak praktek menggunakan rambu-rambu lalu lintas dan dijelaskan langsung oleh bapak polisi dan ibu polisi. Bahkan beberapa siswa secara sukarela maju kedepan untuk membawakan puisi dan lagu tentang tertib lalu lintas. Tentu saja ini sangat membangkitkan minat dan antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan yang merupakan program rutin tahunan dari SD Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Ustadz Rahmat Safari Selaku Wakil Kepala Sekolah Level 4 memastikan bahwa program-program yang mempunyai manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa akan terus dikawal dan digalakkan pelaksanaannya. Sedangkan Kepala Sekolah, ustadz Sudrajat mengungkapkan bahwa kedisplinan adalah salah satu karakter yang harus dibangun pada diri siswa, baik rumah, sekolah, terutama di lingkungan masyarakat. Siswa juga perlu dikenalkan dengan kedisplinan berlalu lintas agar dapat menciptakan sikap berlalu lintas yang aman dan tertib.

Acara berlangsung ramai dan meriah, siswa juga mengikuti kegiatan dengan antusias hingga akhir seluruh murid pulang dengan perasaan riang gembira. (Imalia DI-Humas Level 4)

Kategori:Gagasan

Ajang Tahfizh dan Tasmi’ para Huffazh Muda

September 22, 2013 Tinggalkan komentar

“Yang hebat yang menghafal Qur’an dengan giat”, itulah slogan yang didengungkan oleh 138 siswa kelas 4 SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Kamis pagi, 19 September 2013. Seolah menjadi hari istimewa, mereka menampilkan kemampuan terbaik dalam hafalan Al Quran pada acara Ajang Tahfizh dan Tasmi’ Al Qur’an. Kegiatan berlangsung di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto. Raut wajah penuh keceriaan ditampakkan oleh setiap siswa yang pada hari itu tidak belajar di kelas seperti biasanya, melainkan outclass di masjid yang sejuk dan mendamaikan.

Semangat membaca dan menghafal Al Quran sangat dijiwai oleh para generasi muda muslim tersebut. Beberapa murid yang ditunjuk maju ke depan dengan percaya diri untuk menampilkan hafalan Al Quran juz 30 diawali oleh ananda Alfandi Handy Fabian dari kelas 4 Ibnu Abbas dan ananda Nadiva Aulia dari kelas 4 Ibnu Umar yang melantunkan Surat AnNaba dan dilanjutkan penampilan oleh beberapa siswa yang melantunkan Surat AnNazi’at sampai Al Insyiqoq. Seluruh siswa pada saat itu mendengarkan dengan khusyu’ ayat-ayat yang dilantunkan sambil membuka Al Quran masing-masing.

Tasmi' Al Quran

Tasmi’ Al Quran

“Kegiatan ini merupakan ajang aktualisasi diri bagi siswa yang selama ini telah berusaha untuk menghafal AlQuran. Melalui ajang tahfizh dan tasmi’ ini diharapkan para siswa semakin termotivasi untuk menghafal Al Quran” ungkap ustazh Rahmat Safari selaku wakil Kepala Sekolah level IV. “Tahfizhul Quran merupakan salah satu program unggulan di SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Pembelajaran yang dilaksanakan diantaranya Ajang Tahfizh dan Tasmi’, tahfizh harian, dan tahun ini akan mengadakan pemilihan siswa teladan Al Quran” kata ustadz Rahmat Safari.

Peserta ATT menyimak hafalan Quran

Peserta ATT menyimak hafalan Quran

Sedangkan Kepala Sekolah, ustadz Sudrajat menambahkan bahwa kegiatan menghafal AlQuran perlu sedini mungkin dibiasakan pada diri siswa, karena masa anak-anak adalah masa keemasan dengan kemampuan memori yang kuat. Hafalan AlQuran yang diperoleh pada masa kecil diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi mereka di masa depan, sehingga terwujud generasi yang Qurani tanpa meninggalkan penguasaan ilmu pengetahuan. “Bagi siswa yang dapat menghafal AlQuran dengan baik dan mencapai prestasi di bidang Al Qur’an akan mendapatkan reward dari sekolah sebagai bentuk pengghargaan dan motivasi bagi siswa yang lain agar semakin giat menghafal Al Quran” ungkap ustadz Sudrajat.

Acara tersebut juga diisi dengan lantunan hafalan dari ustadz Arian Sahidi Alhafizh yang membawakan Surat Al Qiyamah sampai Al Mursalat. Setelah menampilkan hafalannya, ustadz Arian yang juga merupakan seorang penulis buku menceritakan pengalamannya selama menghafal AlQuran. Tak berhenti sampai disitu saja, para siswa mendapatkan pengalaman berharga bagaimana menghafal AlQuran dengan mudah dan menyenangkan. Acara ditutup dengan pembagian reward bagi siswa yang tampil ke depan.

Kategori:Gagasan

Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh

September 22, 2013 Tinggalkan komentar

Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh

Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak kita semua untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan semakin mengenalNya. Salah satu cara untuk mengenal Dzat yang Maha Berilmu adalah dengan mengenal diri kita sendiri. Mengapa demikian? Jawaban yang paling utama pastilah bersumber dari Al Quran. Alloh SWT menegaskan dalam Q.S. AdzDzariyat ayat 20-21 yang artinya : “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang yakin” (20), “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (21). Sangat penting untuk melandaskan pemikiran kita kepada ayat suci Al Quran, karena Al Quranlah sumber ilmu yang tidak ada keraguan di dalamnya. Meyakini kebenaran isi dan kandungan Al Quran bagi seorang muslim adalah sebuah harga mati.

Tulisan ini tidak akan membahas tafsir atau kandungan dari dua ayat di atas, tapi setidaknya menjadi landasan dan bingkai pemikiran menuju ke pembahasan yang lebih luas dan lebih mendekat terhadap ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang ilmiah menjadi pengantar bagi kita untuk mengenal diri kita. Tetapi berbeda dengan orang kafir yang meletakkan ilmu pengetahuan sebagai obyek yang terbebas dari nilai-nilai ruhani, tidak mengaitkan pengetahuan ilmiah dan hasil-hasil eksperimennya sebagai penguat keyakinan agama. Seorang muslim akan menempatkan pengetahuan yang telah terbukti secara ilmiah sebagai teropong untuk lebih mengenal kebesaran Dzat yang Maha Mengetahui. Seorang muslim dengan sepenuh hati menyadari bahwa kemampuan akal untuk menangkap fakta-fakta ilmiah, mengungkap keajaiban alam semesta, dan mengeksplorasi pengetahuan adalah anugerah Alloh SWT sebagai pengantar menuju keimanan yang lebih tinggi.

Pelajaran berharga dari sistem saraf

Jaringan saraf yang ada pada tubuh kita sendiri memberikan pelajaran berharga tentang kebesaran Alloh SWT. Sistem saraf manusia bisa jadi merupakan kumpulan materi yang diorganisasikan paling rumit di bumi ini yang membuat komputer yang paling rumit sekalipun kelihatan primitif. Sistem saraf inilah yang secara biologis membuat kita mampu belajar, berpikir, mengingat, dan menjadi sadar akan diri kita sendiri dan lingkungan di sekitar kita.

Kemampuan manusia untuk melakukan aktivitas baik fisik maupun intelektual yang didukung oleh sistem saraf mungkin menjadikan sebagian manusia merasa memiliki daya dan kekuatan untuk melakukan sesuatu. Bahkan manusia yang genius bisa jadi akan merasa bangga dengan kejeniusannya karena memiliki kapasitas berpikir yang lebih tinggi dari orang lain. Tetapi jika kita mengenali diri kita sendiri tentang sistem saraf, maka semestinya akan hilang semua kesombongan dalam diri kita. Mengapa demikian? Karena dalam perjalanan sistem saraf untuk menghasilkan suatu persepsi, pikiran, gerakan, atau output motoris harus melewati proses integrasi dalam Sistem Saraf Pusat (SSP) atau central nervous system. SSP terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang yang berfungsi untuk menerjemahkan informasi yang berasal dari stimulasi reseptor sensoris oleh lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon tubuh yang sesuai. Proses yang terjadi di dalam SSP adalah proses yang murni berlangsung di luar kesadaran dan kontrol manusia, bahkan manusia yang paling hebat sekalipun. Maka siapakah yang mengontrolnya? Bukanlah nenek moyang kita yang merancangnya, bukan pula orangtua kita, bukan para scientis, ahli biologi, peraih nobel  dan kita mengingat sepenuhnya bahwa bukan kita sendiri yang merancangnya. Tidak ada sama sekali peran manusia untuk membangun SSP yang mampu menghasilkan buah karya yang luar biasa. Karena hanya Alloh yang mampu melakukannya dengan mudah. Maka patutkah bagi manusia untuk merasa sombong dengan kedigdayaannya?

Otot polos dan otot lurik, apa hikmahnya?

Bagaimana dengan otot kita, yang membuat kita mampu bergerak dan berkarya. Otot yang nampu menggerakkan tangan kita untuk menghasilkan suatu produk. Otot yang menggerakkan kaki kita sehingga bisa berjalan kemanapun yang dikehendaki, dan semua aktivitas motoris yang kita lakukan dengan dukungan jaringan otot. Lalu mengapa sebagian manusia sampai membanggakan dirinya atas hasil karya tangannya dan hasil usahanya.

Mengenal diri sendiri tentang jaringan otot yang ada pada tubuh kita, dapat menguatkan pandangan hidup kita, bahwa betapa fakirnya kita di hadapan Alloh SWT. Pada saat makan, mengunyah, menelan, semua itu dilakukan dengan sengaja di bawah kontrol kesadaran. Kemampuan itu adalah anugerah Alloh yang telah menciptakan otot rangka atau otot lurik (skeletal muscle) yang bekerja di bawah pengaruh saraf sadar (somatic nervous system). Jika makanan telah kita telan, apa yang dapat kita lakukan di bawah kesadaran? Tugas selanjutnya telah diserahkan sepenuhnya kepada fungsi otot halus (smooth muscle) mulai dari kerongkongan (esophagus). Meskipun otot pada bagian paling atas esophagus adalah otot lurik (otot sadar) sehingga tindakan penelanan (ingestion) dimulai secara sadar, tetapi kemudian gelombang kontraksi tak sadar oleh otot polos pada sisa esophagus selanjutnya akan menggantikannya. Sampai ke lambung pada proses pencernaan (digestion) dan usus pada proses penyerapan (absorption) dilakukan oleh fungsi otot halus yang bekerja di bawah saraf tidak sadar.

Hanya sebagian kecil dari proses makan yang dilakukan secara sadar oleh manusia, sebagian besar dilakukan secara tanpa sadar di bawah kekuasaan Alloh SWT, yang telah merancang dan mendetailkan dengan tingkat ketelitian yang sempurna. Maka jika manusia memiliki energi untuk beraktivitas yang berasal dari nutrisi yang dimakannya, hanya sedikit proses yang dilakukan di bawah kontrol manusia, yaitu mulai dari bibir, rongga mulut, sampai sebatas tenggorokan bagian atas, tidak lebih dari itu. Lalu masihkan ada alasan yang bisa diungkapkan  untuk membantah kebesaran Alloh SWT.

Bisakah hidup tanpa Oksigen ?

Kemudian marilah beralih ke proses bernafas, pertukaran O2 dan CO2, bisa kita hitung hanya sedikit bagian yang bisa dilakukan secara sadar di bawah kontrol kesadaran. Demikian pula kerja organ yang paling vital yaitu jantung. Kapankan kita mengontrol jantung kita sehingga bisa berdenyut saat kita terbangun maupun saat kita tertidur. Kapankan kita mengontrol kecepatan denyut jantung kita, kapankan kita mengontrol proses pompa aliran darah yang kaya oksigen mengalir ke seluruh tubuh dan mengalirkan darah yang kaya CO2 menuju ke jantung dan dialirkan ke paru-paru menjadi darah yang kaya oksigen? Betepa vitalnya jantung untuk kehdiupan manusia, tapi manusia tak mampu mengontrolnya. Sebagian besar organ bekerja dan berfungsi dengan tanpa sadar, di luar kontrol manusia, padahal semua organ itu berada pada tubuhnya sendiri sebagai bagian dari dirinya sendiri, lalu apa yang patut untuk kita sombongakan di hadapan kebesaran Alloh SWT? Subhanalloh.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.