Beranda > Wacana > Wisuda Tartili : Momen yang Mengkristalkan

Wisuda Tartili : Momen yang Mengkristalkan

Panggung wisuda tartili

Panggung Wisuda Tartili

 Mempersiapkan kegiatan wisuda yang cukup besar serasa menjalankan mission imposible. Tugas pokok mengajar yang terus-menerus seperti marathon menuntut manajemen waktu yang ketat. Beberapa target pengajaran penting juga menuntut kerja tim yang solid. Menyelesaikan bimbingan bagi calon peserta wisuda dan menuntaskan proses pembelajaran tartili jilid 5 dan bimbingan untuk peserta didik yang membutuhkan bimbingan yang lebih. Ritme kegiatan dengan arahan yang mesti dicapai menjadi pembelajaran berharga bagi tim.
Perasaan menjalankan mission imposble ini terkikis melihat perkembangan motivasi wisudawan yang amat tinggi. Motivasi peserta yang menjulang memberi energi positif dan semangat untuk memberikan fasilitas dan kesempatan yang luas. Perkiraan awal jumlah wisudawan pada taraf sedang, ternyata berkembang menjadi taraf yang tinggi dari segi kuantitas. Peserta yang meliputi 4 level menuntut kerja ekstra dan komunikasi yang mensukseskan.
Cita-cita tim untuk memberikan apresiasi terhadap hasil belajar wisudawan tidak bertepuk sebelah tangan. Kedua belah pihak bagaikan bersinergi untuk menciptakan momen bersama yang berkesan dan tak terlupakan. Kesadaran tim menguat bahwa memberikan apresiasi terhadap hasil belajar siswa termasuk hasil belajar Al-Quran menjadi penting. Terlebih tatkala belum terbangun motivasi intrinsik pada diri murid. Dorongan belajar pada diri murid masih didominasi oleh dorongan dari luar, sehingga belum tertanam inisiatif untuk belajar secara mandiri. Apresiasi positif yang diberikan menumbuhkan kepercayaan diri pada murid dan secara perlahan menanamkan suatu pengertian. Murid mengerti bahwa dengan proses belajar yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan meningkatkan kemampuan diri secara kualitas.

Bukan sekedar seremoni

wisudawan Tartili

Menjelang prosesi wisuda

Wisuda Tartili membawa ekspektasi jangka panjang. Momen ini bukanlah finalisasi dari proses belajar Al-Quran dan bukanlah ujung dari perantauan emosional dan spiritual murid. Predikat sebagai wisudawan justru menjadi batu loncatan untuk meraih kualitas hasil belajar yang lebih tinggi. Ibarat telah memperoleh kunci dan secara bersama-sama membuka pintu ruang pembelajaran Al-Quran yang lebih luas dan lebih kaya.
Prosesi wisuda yang berlangsung merupakan puncak dari rasa dihargai yang diperoleh wisudawan. Ada keyakinan kuat bahwa pada momen ini wisudawan tidak memikirkan tentang apa yang disematkan atau diberikan. Secara murni mereka merasa terhargai dengan menjadi bagian dari generasi baru di mata audien. Konsekuensinya prosesi wisuda seyogyanya tidak dilihat dari kacamata seremonial formal yang melelahkan belaka. Demikian pula tidak dilihat dari simbol-simbol yang disematkan atau diberikan. Lebih dari itu prosesi wisuda memiliki makna emosional dan spiritual yang melekat di setiap acara yang disajikan. Wisudawan menjadi aktor, audien menjadi saksi mata, penyelenggara menjadi fasilitator dan prosesi wisuda menjadi momen yang menggabungkan ketiga pihak ini secara mental emosional dan menyatukan tujuan spiritual vertikal mereka. Simbol-simbol yang disematkan dan diberikan mengandung makna persuasi. Secara tersirat mengajak dan memberikan dorongan untuk meneruskan kesungguhan wisudawan dalam kegiatan belajar dan meningkatkan kemampuan. Medali yang disematkan di dada menjadi simbol yang bermakna predikat sebagai pembelajar Al-Quran. Syahadah yang diberikan menjadi simbol yang bermakna kemampuan yang melakat pada diri sebagai modal pembelajaran yang berkelanjutan. Seolah memberikan pesan kepada wisudawan, “engkau pantas menerima penghargaan ini dan masukilah ruang pembelajaran yang lebih luas dan naikilah level belajar yang lebih tinggi”.
 
Momen yang mengkristalkan
Menjelang prosesi wisuda tartiliBetapa bahagia seorang pendidik tatkala berhasil melejitkan potensi yang dimiliki anak didik. Baik guru maupun murid merasa terlibat secara emosional dalam kegiatan pembelajaran. Momen-momen seperti inilah yang senantiasa dinantikan seorang guru. Berbagai cara diterapkan, diantaranya dengan senantiasa memberikan apresiasi positif terhadap hasil belajar murid. Tanpa menunggu murid-muridnya berperilaku negatif karena mencari perhatian. Sebaliknya berhasil menyeimbangkan antara kontrol perilaku negatif dan pujian terhadap perilaku positif dan hasil belajar. Bahkan, mampu menciptakan suasana pembelajaran yang berfokus pada perilaku positif dan hasil belajar.
Wisuda tartili sebagai bentuk dari apresiasi terhadap hasil belajar wisudawan, merupakan upaya untuk menciptakan momen-momen yang melejitkan. Momen wisuda yang sakral menumbuhkan motivasi yang mengkristal dalam diri wisudawan. Mulai tumbuh dalam hatinya motivasi intrinsik, dorongan dari dirinya sendiri untuk melejit meraih kualitas

Tindak lanjut
Wisuda bukan finalisasi proses. Tindak lanjut harus diberikan dalam bentuk pembelajaran berkelanjutan yang lebih mendalam. Beberapa langkah strategis dapat diterapkan untuk pembinaan lebih lanjut terhadap wisudawan.
1. Bimbingan membaca Al-Quran
Mengantarkan wisudawan ke taraf mahir membaca Al-Quran. Langkah yang ditempuh adalah dengan pembiasaan tadarus Al-Quran. Anak dibimbing untuk melalui proses peralihan dari belajar tartili ke praktek membaca Al-Quran menggunakan mushaf yang sebenarnya. Pembiasaan yang diberikan akan meningkatkan kemampuan anak membaca Al-Quran dengan baik dan benar.
2. Hafalan mandiri
Sistematika belajar Al-Quran mulai dapat diterapkan. Yakni anak berpindah dari taraf menghafal Al-Quran dengan metode talqin ke taraf menghafal secara mandiri. Anak didorong untuk menghafal sendiri dengan modal kemampuan membaca Al-Quran yang telah diperoleh. Sistematika ini dapat melejitkan prestasi anak karena tidak lagi terbatas pada pembelajaran hafalan klasikal melalui mendengarkan secara bersama-sama. Lebih dari itu anak dapat berkompetisi meraih prestasi hafalan secara individu atau minimal secara kelompok.
3. Pengayaan
Bagi anak yang telah mencapai kemampuan membaca Al-Quran yang baik dan prestasi hafalan di atas rata-rata, diberikan pengayaan dengan mempelajari ayat-ayat pilihan. Maka anak dimungkinkan belajar dengan metode pembinaan individu atau kelompok sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.
4. Rumah teladan
Orang tua mengambil peran di sini. Situasi rumah sebisa mungkin dikondisikan agar anak merasa terdorong untuk terbiasa membaca Al-Quran dan berkeinginan untuk membaca maknanya. Teladan dari orang tua akan memberikan semangat dan motivasi pada diri anak. Keduanya merasa memiliki tujuan yang sama dan lambat laun tercipta rumah teladan.
Rahmat Safari, Guru Al-Qur’an SD Al-Irsyad 01.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s