Beranda > Gagasan, Metode pembelajaran > REVITALISASI PEMBELAJARAN AL QURAN

REVITALISASI PEMBELAJARAN AL QURAN

Refleksi
Pembelajaran Al Quran yang diterapkan secara formal dan menjadi program unggulan merupakan suatu langkah maju. Bahkan jika suatu institusi pendidikan mampu menciptakan metodologi baru dalam pembelajaran Al Quran berarti telah menemukan paradigma baru dalam pendidikan. Howard Gardner memaparkan tentang new learning paradigm dimana kecerdasan dinilai dari dua hal, yakni kemampuan memecahkan persoalan (problem solving) dan kemampuan menciptakan produk (creation).
Pembelajaran dengan paradigma baru tidak lagi hanya bertanya tentang apa yang saya pahami (what can I understand) atau apa yang saya dapatkan (what given by text). Lebih dari itu paradigma ini mengajak insan pendidikan untuk bertanya tentang dapatkah saya berubah atau perubahan apa yang saya alami.
Berkaca pada pemikiran di atas, maka sesungguhnya pergumulan tim Al Quran dalam menciptakan, mengevaluasi, dan menyempurnakan metode pembelajaran Al Quran telah melibatkan dirinya masuk dalam lingkungan pembelajar. Proses yang berjalan secara bertahap benar-benar melibatkan emosi personal dan tim yang merasa menjadi bagian dari pengalaman belajar dan membelajarkan. Pengalaman membelajarkan yang bersifat internal secara empiris dapat membangun khasanah metodologi pembelajaran Al Quran. Guru Al Quran khususnya secara tidak sadar memiliki kerangka berpikir induktif, yakni mencerna pengalaman khusus untuk menyusun sistematika baru yang lebih reliable.
Pengalaman internal (internal experience) diintegrasikan dengan pengalaman eksternal (external experience) dapat menjadi kritik yang konstruktif bagi metodologi yang selama ini diterapkan. Inilah yang diutarakan oleh Hernowo sebagai Emotional Quotient yang mencirikan sebuah metodologi pembelajaran Al Quran yang ilmiah, terbuka dan dapat dikritisi.
Grand design Pembelajaran Al Quran
Format baru adalah langkah srategis merevitalisasi pembelajaran Al Quran. Maknanya adalah kembali menjadikan pembelajaran Al Quran sebagai sebuah program penting dan unggulan. Pembelajaran Al Quran adalah penting tatkala menjadi perhatian bagi semua komponen dalam institusi pendidikan. Semua komponen berusaha dan berperan untuk mensukseskan program ini. Unggul berarti mampu menghasilkan output yang berkualitas (bermutu) dan memiliki kemampuan yang merata.
Keinginan besar untuk mewujudkan pembelajaran AlQuran sebagai program vital kiranya membutuhkan sebuah ide tentang integrasi seluruh komponen menutju output yang berkualitas. Grand design pembelajaran Al Quran mesti ditopang oleh tiga pilar utama, yakni manajemen, guru, dan orangtua murid. Ketiga komponen ini diintegrasikan untuk mewujudkan pembelajaran Al Quran berbasis murid (student bese learning). Model yang paling tepat adalah menggunakan model geometris dan meninggalkan model linear yang selama ini cenderung diterapkan. gambar 1 dan gambar 2 memperlihatkan perbandingan skema model geometris dan linear.
Perbandingan antara model geometris dan linear dapat dibaca pada Tabel 1.
Penerapan grand design model geometris
Integrasi
seluruh komponen terutama tiga pilar utama untuk mewujudkan student base learning dalam pembelajaran Al Quran sangat potensial. Terutama dengan goodwill yang ditunjukkan oleh manajemen dengan memberikan stimulan berupa pencapaian jaminan mutu (Qualitiy Insurance) murid. Pemberian stimulan ini sangat penting dengan beberapa alasan. Pertama, menunjukkan bahwa manajemen memiliki optimisme dan pandangan bahwa mastery learning bisa dan pasti bisa tercapai dengan menetapkan qualitiy insurance. Tentu saja hal ini menggambarkan secara implisit kesiapan manajemen untuk mendukung sepenuhnya program unggulan yang dijalankan. Kedua, menumbuhkan kepercayaan diri guru Al Quran bahwa perubahan yang akan diterapkan merupakan langkah maju untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Penerapan grand design pembelajaran Al Quran dilaksanakan dengan perencanaan strategis berikut :
1. Integrasi manajemen dan guru untuk menumbuhkan motivasimurid dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif.
2. Integrasi manajemen dan orangtuamurid untuk mengkomunikasikan semua hal yang dapat mendukung bagi tercapainya ketuntasan belajar murid serta memberikan rewards untuk murid
3. Integrasi guru dan orangtua untuk menciptakan suasana rumah yang kondusif dan mengkomunikasikan pelayanan bagi murid yang memerlukan pendampingan khusus.
Integrasi ketiga komponen ini memungkinkan terjadinya komunikasi multi arah. Masing-masing komponen proaktif untuk mensukseskan program dengan memberikan masukan dan umpan balik yang bersifat konstruktif untuk mencapai tidak hanya prestasi individu, tetapi lebih jauh lagi mencapai prestasi kelompok.
Student base learning
Keberadaan murid dalam sistem adalah pokok. Skema geometris di atas menempatkan murid di tengan lingkaran yang menunjukkan murid sebagai pusat sistem. maknanya murid ditempatkan sebagai subyek belajar yang mendapatkan fasilitas dan kemudahan yang luas untuk mencapai prestasi. Komponen yang melingkari murid menjadi lingkungan belajar yang berperan sebagai fasilitator, motivator, dan sumber belajar. Sedangkan obyek belajarnya adalah metode pembelajaran Al Quran yang digunakan.
Seluruh wilayah sistem harus mampu mendukung keberhasilan pencapaian murid. Strategi utama adalah dengan memberikan motivasi dan stimulan agar murid dapat melejit mencapai kompetensi yang diharapkan sebagai wujud quality insurance.

Piramida di atas menggambarkan bahwa sistem mengambil peran besar dalam pencapaian QI. Wilayah sistem menjadi penopang bagi wilayah motivasi eksternal yang menjadi dorongan dari luar diri murid. Tujuan utama adalah menciptakan wilayah milik murid berisi motivasi internal yang menumbuhkan tanggungjawab, kesungguhan dan inisiatif belajar. Inilaih kiranya inti dari student base learning yang memungkinkan murid memiliki ruang atau wilayah yang dimiliki sepenuhnya oleh murid dengan ditopang oleh wilayah sistem yang mendukung.
Perubahan inti
Keterlibatan emosional tim Al Quran dengan menggabungkan pengalaman eksternal dan internal melahirkan perubahan pola pembelajaran. Perubahan pola yang dimaksud adalah perubahan dari pola individual menjadi pola baca simak. Pola individual yang selama ini cenderung diterapkan secara empiris memiliki banyak kelemahan. Pola ini mendorong adanya gap kemampuan dalam kelompok bahkan antar kelompok. Guru menjadi pusat yang sangat menentukan prestasi murid secara individual. Pola ini mendorong guru untuk meningkatkan kemampuan dalam penanganan murid secara personal dengan memperhatikan modalitas yang dimiliki murid. Akhirnya sistem dan metode kurang berperan untuk memudahkan, tetapi hanya mengakomodir murid dengan kemampuan yang lebih dan meninggalkanmurid dengan kemampuan di bawahnya.
Pola bacasimak diharapkan dapat menjadi perubahan inti yang diperankan oleh guru dan murid. Guru menerapkan metode yang mendorong prestasi murid merata dalam kelompok. Murid terdorong untuk meningkatkan kemampuannya dan tanpa sadar kemampuannya meningkat karena faktor pembiasaan.

Perbandingan kedua pola pembelajaran di atas dapat dibaca pada tabel 2.

Perubahan pola pembelajaran ini diharapkan membawa dampak yang besar terhadap prestasi murid atau prestasi kelompok. Integrasi tiga komponen semoga mampu menciptakan sistem yang paling kondusif bagi tercapainya quality insurance. Allohuakbar.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s