Beranda > Analisis > Menciptakan Emosi Positif untuk Keberhasilan Pembelajaran

Menciptakan Emosi Positif untuk Keberhasilan Pembelajaran

Menyeimbangkan tiga dimensi pembelajaran

Pada suatu kegiatan belajar di sebuah sekolah dasar, seorang guru mengawali pernyataan : “sekarang, mari kita buka buku kita pada halaman 33 dan kerjakanlah 10 soal yang ada di dalamnya”. Mendengar itu, seorang siswa lalu menjawab : “saya tidak tertarik mengerjakan soal tersebut”. Guru ini kemudian menyatakan : “bukalah bukumu dan segeralah mulai menjawab soal!”. Siswa yang namanya Jodi itupun menyatakan bahwa ia membenci pelajaran matematika. Sang guru pun segera mempertegas perintahnya bahwa jika Jodi tidak segera mulai mengerjakan pekerjaannya maka ia akan memberi tambahan pekerjaan lainnya. Namun, Jodi tetap menyatakan tidak akan mengerjakan menjawab soal-soal matematika tersebut.

Contoh percakapan guru-murid di ruang kelas ini menggambarkan awal yang kurang baik dalam proses pembelajaran. Akibatnya proses pembelajaran selanjutnya kemungkinan besar akan mengalami kegagalan setidaknya pada diri Jodi. Banyak guru menghadapi situasi dimana murid menunjukkan respon negatif terhadap pembelajaran. Berbagai bentuk respon dapat ditunjukkan oleh murid di antaranya dengan menunjukkan ketidaktertarikan, sikap pasif, tidak kooperatif dan sikap negatif yang lain.

Beragam sikap yang diekspresikan oleh murid menunjukkan bahwa setiap proses pembelajaran yang berlangsung tidak lepas dari dimensi afektif. Dimensi kecerdasan sikap atau kepribadian ini sama pentingnya dengan dua dimensi lainnya, yakni dimensi kognitif dan psikomotor. Selama ini, dari tiga elemen kecerdasan, dua yang terakhir nampak lebih dipentingkan dalam praktik pendidikan. Sementara ranah afektif seringkali kurang memperoleh perhatian sewajarnya. Hal ini disebabkan pandangan yang kurang tepat yang menggambarkan bahwa kecerdasan manusia hanya berhubungan dengan kemampuan pikir sehingga memunculkan teori tentang cara mengukur kecerdasan otak yang dikenal dengan IQ (Intelektual Quotient). Meskipun pandangan ini telah dibantah oleh teori tentang kecerdasan emosional atau EQ (Emotional Quotient) yang berpandangan bahwa kemampuan dalam mengelola sikap adalah akar kecerdasan yang lebih penting dari IQ.

Sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta, pada umumnya lebih mementingkan kemampuan kognitif, daya nalar dan keterampilan menjawab soal-soal ujian. Kebanyakan guru tampak tidak cukup sabar menumbuhkan emosi dan kemampuan peserta didik dalam mengambil sikap. Padahal cerita atau kasus di atas menunjukkan bahwa belajar kognitif tidak dapat dilakukan pada suasana yang tidak mendukung afeksi dan kita tidak dapat berasumsi bahwa keluarga atau lembaga lain bertanggungjawab atas pekembangan afeksi murid. Penekanan pada aspek kognisi semata bahkan bisa terjadi di lembaga pendidikan tinggi, seperti sepenggal kisah yang diungkapkan oleh Carl Roger :

Sebuah demonstrasi terjadi di sebuah Universitas Amerika, peristiwa ini membuat seorang profesor ahli fisika mulai menjaga jarak dengan kelompok-kelompok kecil mahasiswa. Sang profesor mengambil jarak dengan kelompok tersebut dengan alasan ia harus datang ke suatu seminar tentang belajar. Profesor ini pun menyatakan : ”belajar adalah kegiatan yang berlangsung pada tingkat intelektual dan rasional, bukan emosional. Tidaklah bijaksana suatu pernyataan intelektual diungkapkan di sini sekarang. Jika ada yang ingin berdiskusi secara intelektual, saya usulkan agar meninggalkan kelompok ini dan begabung dengan saya di ruang sebelah untuk belajar yang barangkali menguntungkan”.

Bagaimana menurut anda cerita di atas? Adakah yang bisa kita petik?

Menyeimbangkan penggunaan otak kanan dan otak kiri

Setiap guru tentu ingin mentransfer ilmu, pengetahuan, dan nilai-nilai kepada murid. Proses transfer dari guru ke murid diharapkan menghasilkan output yang berkualitas. Keinginan untuk memberikan internalisasi kepada murid melibatkan murid untuk menggunakan kemampuan otaknya. Adakalanya proses transfer ini mengalami ketidakseimbangan karena hanya menitikberatkan pada sisi akademis (kognitif) semata. Sementara sisi sikap (afektif) kurang diperhatikan.

Pembelajaran yang menitikberatkan pada sisi akademis akan mengeksplorasi murid dengan otak kirinya. Otak kiri bekerja dengan logika. Jika murid dipacu untuk menggunakan otak kirinya maka ia akan mengembangkan nalarnya. Bagaimana dengan sisi emosionalnya? Setiap anak secara utuh pasti mempunyai sisi emosional. Sumbernya adalah otak kanan yang bekerja dengan emosi. Pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran yang memperhatikan keseimbangan penggunaan antara otak kanan dan otak kiri.

Roger Sperry

Roger Sperry

Menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri dalam pembelajaran menjadikan murid menggunakan otaknya secara menyeluruh. Eksplorasi otak kanan sangat bermanfaat karena menumbuhkan gairah, semangat, kegembiraan, dan yang lebih penting adalah munculnya emosi positif pada diri murid.

Eksplorasi otak yang menitikberatkan pada otak kiri sebaliknya dapat menimbulkan emosi negatif pada diri murid. Murid dipaksa untuk menggunakan logika dan nalarnya untuk menerima transfer berbagai ilmu dan pengetahuan. Tanpa diseimbangkan dengan otak kanan, murid akan merasa jenuh dan kesulitan. Bahkan bisa timbul dalam dirinya anggapan bahwa belajar adalah sesuatu yang berat, harus berpikir keras dan hanya sebagian anak yang bisa melakukannya. Anggapan ini memunculkan persepsi negatif pada diri murid, diantaranya : sekolah itu sulit, saya tidak akan bisa, dan belajar itu usaha keras. Bahkan ada anggapan spesifik yang sangat merugikan proses pembelajaran, misalnya murid menganggap beberapa pelajaran menjadi momok, seperti matematika dan IPA yang penuh dengan rumus dan angka, Bahasa Indonesia dan IPS yang penuh dengan teori menjemukan, dan sebagainya.

 Menumbuhkan emosi positif

Aspek afektif sangat penting untuk diperhatikan di samping aspek kognitif dan psikomotor. Pembelajaran yang memperhatian aspek afektif akan berusaha menumbuhkan suasana emosi yang positif pada diri murid. Ini adalah awal yang sangat baik untuk mensukseskan pembelajaran.

Suasana emosi positif pada murid membantu murid untuk memiliki kemampuan dalam memberikan arti atau makna pada obyek yang dipelajari. Pembelajaran menjadi berisi, berarti, dan bermakna. Semua murid merasa terlibat dengan apa yang dipelajari, mereka berusaha mengaitkan diri dengan proses pembelajaran, merasa memiliki, dan berperan aktif dalam setiap kegiatan.

Mengembangkan emosi positif pada diri murid adalah usaha penting untuk membantu murid menghubungkan pengalaman pribadinya dengan pengalaman dari luar. Pengalaman pribadi adalah hasil dari usaha belajar yang muncul dari keinginannya sendiri dan pengalaman yang dialami sendiri. Pengalaman dari luar adalah pemaparan dan penjelasan dari guru mengenai obyek pembelajaran dan lingkungan yang melingkupi.

Gambar di bawah ini akan meyakinkan anda tentang pentingnya menumbuhkan emosi positif murid.

 

Bobby de Porter & Mike Hernacki

Bobby de Porter & Mike Hernacki

Upaya yang dapat dilakukan

Usaha untuk menumbuhkan emosi positif pada diri murid dapat anda praktikkan di kelas atau dalam proses pebelajaran anda di antaranya :

  1. Tunjukkan antusiasme, gairah dan semangat anda dalam mengajar. Murid akan melihat anda dan terbawa oleh semangat anda.

  2. Beritahukan tujuan pembelajaran dan manfaat dari pelajaran yang akan anda sampaikan kepada murid. Setelah murid mengetahui tujuan dan manfaat pelajaran diharapkan akan tumbuh minat untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.

  3. Berikan kesempatan murid untuk berkomunikasi, berdialog, dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Misalnya dalam menyiapkan perlengkapan belajar, media pembelajaran, dan dalam kerjasama kelompok

  4. Ciptakan makna pembelajaran dengan mengaitkan pelajaran dengan pengalaman-pengalaman murid dan kejadian nyata di lingkungan

  5. Lontarkan pernyataan yang empatik dengan bahasa yang tegas dan tenang. Contoh ; “anak-anak, hari ini kita akan mempelajari sesuatu yang lebih menantang, kita akan berusaha memecahkan persoalan yang berkaitan erat dengan kehidupan kita”.

  6. Berikan pujian yang tulus dan merata kepada murid yang bersikap positif, aktif, dan menunjukkan kesungguhan dan keberhasilan belajar meski sekecil apapun. Pujian diberikan secara spontan tanpa menunggu waktu lama tepat setelah anak melakukan tindakan yang terpuji dan menunjukkan keberhasilan.

  7. Berikan hadiah (reward) untuk murid dengan kriteria tertentu.

Sebagai penutup gambar sederhana berikut semoga menambah wawasan dan inspirasi anda

gambar learning paradigm

Anda punya pandangan lain?

Bahan bacaan

  • Cerdas di Kelas : Sekolah Kepribadian Humanizing Classroom, John P. Miller

  • Mengubah Sekolah, Hernowo

  • Mengatasi Perilaku Negatif Anak, Don Fleming & Mark Ritts

  1. Juni 2, 2013 pukul 9:59 pm

    You have made some decent points there. I checked on the web for more information about the issue and found most individuals will go along with your views on this site.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s