Beranda > Analisis > Analisis Pembelajaran Al Quran (Metode Tartili) Memangkas Gap Idealitas dan Realitas

Analisis Pembelajaran Al Quran (Metode Tartili) Memangkas Gap Idealitas dan Realitas

Analisis SWOT

analisis SWOT

Analisis Proses

A.  Pembiasaan membaca dengan alat peraga Tartili

  1. Alat peraga sama dengan buku baik jumlah maupun isinya, namun ada beberapa halaman yang berbeda isinya karena buku mengalami revisi sedangkan alat peraga tetap.

Permasalahan :

–    Jumlah halaman peraga yang banyaknya sama dengan halaman buku menyebabkan pengkhataman alat peraga berlangsung lama (membutuhkan banyak pertemuan), jika satu pertemuan membaca peraga 4 halaman dengan Teknik 1 (guru membaca murid mendengarkan) dan Teknik 2 (guru membaca murid menirukan) maka satu kali khatam peraga dalam ±12 pertemuan. Khatam peraga 3 kali dengan Teknik 1 dan 2 membuthkan 36 pertemuan. Teknik 3 (guru membaca murid membaca) baru digunakan pada pertemuan ke-37 sampai 60.

–    Khatam peraga membutuhkan waktu lama menyebabkan pengulangan membaca sebagai pembiasaan menjadi kurang efektif karena menunggu menyelesaikan semua halaman.

–    Murid kesulitan pada saat klasikal alat peraga dengan Teknik 2 (guru membaca murid menirukan) karena kalimat pada halaman-halaman akhir peraga panjang dan kompleks

–    Murid yang merasa kesulitan kurang tertarik untuk mengikuti pembelajaran klasikal sehingga pembiasaan membaca tidak tercapai

–    Guru kelelahan untuk melakukan Teknik 1 dan Teknik 2  sedangkan hasilnya kurang efektif

Pemecahan :

–    Setiap jilid peraga Tartili dibagi menjadi 2 yakni peraga a dan b. Jumlah halaman peraga a dan b masing-masing separuh jumlah halaman peraga.

–    Klasikal alat peraga dengan membaca peraga a terlebih dahulu secara berulang-ulang, baru kemudian peraga b. Tujuannya agar pengulangan halaman awal untuk melancarkan bacaan murid tidak perlu menunggu waktu yang lama.

–    Khatam alat peraga a 1 kali dalam 6 pertemuan menggunakan Teknik 1 dan 2, kemudian 12 pertemuan berikutnya diulang kembali sampai 2  kali khatam masih menggunakan Teknik 1 dan 2.

–    Pertemuan ke-19 sampai 30 atau sampai murid membaca buku halaman akhir peraga a, klasikal peraga a menggunakan Teknik 3. Khatam peraga a dengan Teknik 3 sebanyak 4 kali khatam (1 pertemuan 8 halaman klasikal peraga)

–    Dilanjutkan klasikal peraga b pada pertemuan ke-31 sampai 60 dengan cara yang sama. Contoh penerapannya dapat dibaca pada tulisan sebelumnya Skenario Pembelajaran Al Quran.

  1. Teknik klasikal peraga

Permasalahan Teknik 1 (guru membaca murid mendengar) :

–    Suara guru kurang lantang

–    Guru membaca terlalu cepat

–    Murid tidak memperhatikan tulisan pada alat peraga

–    Murid bercakap-cakap atau mempermainkan sesuatu

–    Suara guru berbenturan dengan suara guru dari kelompok lain

–    Tulisan pada alat peraga terlalu kecil

Permasalahan Teknik 2 (guru membaca murid menirukan) :

–    Suara murid pelan dan pengucapan kurang jelas

–    Murid menirukan tetapi tidak memperhatikan tulisan

–    Murid memperhatikan tulisan tetapi tidak ikut menirukan

–    Murid pasif, bercakap-cakap atau bermain sendiri

–    Murid kesulitan mengikuti karena kalimat panjang dan kompleks

–    Suara murid berbenturan dengan suara murid dari kelompok lain

–    Guru dan murid kelelahan

Permasalahan teknik 3 (guru membaca murid membaca) :

–    Teknik 3 sementara belum dipraktikkan

Pemecahan :

–    Guru membaca dengan suara sedang sampai terdengar oleh murid terjauh. Tujuannya agar tidak berbenturan dengan kelompok lain dan tidak terlalu lelah

–    Guru membaca dengan kecepatan menyesuaikan taraf kemampuan murid, panjang pendek atau komplesksitas kalimat pada peraga.

–    Guru melakukan pengulangan jika murid merasa kesulitan mengikuti

–    Murid menirukan dengan suara sedang, jika terlalu keras guru mengingatkan

–    Posisi duduk murid memungkinkan menjangkau atau melihat alat peraga dengan jelas. Guru menunjuk tulisan/kalimat untuk membantu murid dalam membaca

–    Guru memberikan perhatian yang menyeluruh kepada seluruh murid. Tekun memberikan motivasi agar murid aktif dalam klasikal.

–    Guru memberikan pujian langsung kepada murid yang aktif dan bersungguh-sungguh

–    Perlengkapan murid sebaiknya diletakkan di tempat tertentu agar tidak menarik perhatian murid pada saat klasikal

–    Berikan jeda beberapa saat antar halaman pada saat membaca dengan Teknik 2.

B.  Baca simak

  1. Klasikal buku

Permasalahan :

–    Isi halaman pada buku ada yang tidak sama, baik kalimat maupun urutannya

–    Murid tidak membawa buku Tartili

–    Permasalahan pada klasikal peraga Teknik 1 dan 2

Pemecahan :

–    Jika isi halaman tidak sama, maka klasikal baca simak menggunakan alat peraga

–    Guru mempunyai buku Tartili untuk mengatasi murid yang tidak membawa

–    Pemecahan pada klasikal peraga Teknik 1 dan 2

  1. Baca simak buku Tartili

Permasalahan :

–    Suara murid pelan, tidak keluar suaranya sehingga tidak bisa didengar oleh murid lain. Mayoritas terjadi pada murid perempuan

–    Murid tidak memperhatikan tulisan

–    Murid tidak mendengarkan bacaan teman

–    Murid bercakap-cakap atau bermain sendiri

–    Murid melamun, bosan karena lelah

–    Murid kesulitan membaca karena belum memahami konsep

–    Waktu habis sebelum selesai baca simak

Pemecahan :

–    Murid yang pelan suaranya, diposisikan paling dekat dengan guru. Berikan motivasi dan contoh suara jelas.

–    Berikan ice breaking jika murid merasa bosan dan tidak konsentrasi

–    Murid yang bercakap-cakap atau bermain sendiri ditangani dengan arif dan tegas

–    Mintalah murid untuk menunjuk kalimat yang dibaca dengan menggunakan alat atau dengan jari. Ini akan membantu murid untuk mengikuti baca simak.

–    Ajak murid untuk saling mengoreksi bacaan (jika waktu memungkinkan)

–    Murid yang keliru membaca segera diluruskan, ulangi konsep dengan singkat dan jelas

–    Manajemen waktu

C.  Muroja’ah dan hafalan

  1. Muroja’ah tidak terlalu banyak
  2. Setoran hafalan dengan sistem penjadwalan (misal 1 pertemuan 2-3 murid setoran hafalan). Awali dari murid yang hafalannya bagus/lancar. Setoran tidak ditentukan atau dibatasi jumlah ayatnya.
  3. Setoran mulai dari ayat 1 hingga akhir, tidak sepotong-potong
  4. Berikan motivasi dan dorongan untuk menghafal
  5. Sempatkan minimal 5 menit untuk muroja’ah di setiap pertemuan.
  1. LILIK LIQONNISA
    Februari 13, 2010 pukul 3:21 am

    kembangkan terus potensi tim qur’an, slmt dan sukses utk tim qur’an sd alirsyad 01

  2. November 13, 2011 pukul 10:47 am

    Assalamu’alaikum, ustadz rahmat. aku adalah salah satu pengajar tpq pakai metode tartili, saya mau tanya sama gak ya metode tartili yang anda pakai dengan metode tartili yang saya paki, kitab yang kami pakai berpusat di jember

  3. November 13, 2011 pukul 1:43 pm

    Assalamu’alaikum, ustadz rahmat. aku adalah salah satu pengajar tpq pakai metode tartili, saya mau tanya sama gak ya metode tartili yang anda pakai dengan metode tartili yang saya paki, kitab yang kami pakai berpusat di jember

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s