Beranda > Tausiyah > I’TIKAF RAMADHAN : Pengalaman religius dan i’tikad aksi sosial

I’TIKAF RAMADHAN : Pengalaman religius dan i’tikad aksi sosial

Sungguh luar biasa sunnah yang diajarkan Rosululloh SAW. Apa yang datang dan kita terima dari beliau adalah jalan hidup yang membawa kemaslahatan dunia dan akhirat.
Lima hari melaksanakan i’tikaf bersama rekan-rekan guru dan manajemen menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Betapa tidak, di hari-hari biasa manusia disibukkan dengan aktifitas kehidupan yang panjang, bahkan tanpa henti. Rosululloh dengan cerdas menawarkan sebuah konsep keseimbangan, agar kita kembali mencari kebahagiaan akhirat, yakni dengan beri’tikaf di 10 hari terakhir bulan ramadhan.

Mengarah kepada keseimbangan karena Rosululloh tidak serta merta melaksanakan i’tikaf di Masjid, tetapi beliau mempersiapkan segala sesuatunya dengan seksama. Beliau berdiam diri di Masjid bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi telah mengelola kehidupan agar seimbang.

Merenungkan kembali praktek ibadah baik ibadah khusus maupun umum. Selama i’tikaf ternyata membuktikan bahwa dengan pengelolaan kehidupan yang baik dan sungguh-sungguh, praktek ibadah khusus baik yang wajib maupun sunnah, dapat dilaksanakan dengan tertib dan berkesinambungan. Ini berbeda dengan suasana di luar i’tikaf yang bercampuraduk dengan kegiatan duniawi, kadangkala ketertiban dan kesinambungan ibadah khusus terlupakan.

Sholat jama’ah

I’tikaf mendorong muslim yang melaksanakannya untuk mendirikan sholat secara berjama’ah lima waktu. Hikmah yang besar terasakan, yakni semestinya tidak ada alasan untuk meninggalkan sholat jama’ah karena sholat jama’ah lebih utama. Seorang muslim yang mengharap kebahagiaan akhirat pasti akan mengambil cara yang paling utama. Kuncinya adalah menciptakan sistem, misalnya perusahaan, kantor, sekolah, pabrik, dan tempat-tempat manusia beraktifitas yang lain. Ciptakan sistem yang memberi keleluasaan untuk melaksanakan ibadah dan mendorong anggota kelompok untuk mengambil jalan yang paling utama. Demikian pula pada tataran individu, seorang muslim mengelola aktivitas kehidupannya dengan mengacu pada keseimbangan ukhrowi dan duniawi. Pada saat mencari karunia dunia, tetap berpijak, tidak terlena, sehingga tatkala mendengar panggilan untuk mencari karunia ukhrowi, hatinya peka dan menggerakkan dirinya untuk segera menghampiri. Pengelolaan sistem dan individu yang baik dapat menjadikan pelaksanaan ibadah khusus yang disyari’atkan Alloh dan Rosul-Nya menjadi mudah, realistis, dan praktis.

Sholat sunnah

Suasana i’tikaf membawa muslim yang melaksanakannya tidak terburu-buru dalam ibadah. Semua telah dipersiapkan dengan matang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika melaksanakan ibadah dengan tenang, khusyu, dan tuma’ninah. Sholat jama’ah diiringi dengan sholat sunnah rowatib. Lengkap, sempurna, tidak tergesa-gesa dikejar dunia. Pengelolaan sistem dan individu menciptakan pengaturan waktu yang mendukung pelaksanaan sholat sunnah.

Mempraktekkan gaya hidup Rosululloh, sahabat, dan ulama adalah pembelajaran berharga dalam i’tikaf. Hidup di masjid menjauhkan kita dari hiruk pikuk hiburan, entertainment, aksesories yang menghabiskan malam dengan sesuatu yang kurang bermanfaat. Bisakah jika di rumah? Pasti bisa. Setelah beraktivitas panjang di siang hari, badan terasa lelah, setelah sholat isya gunakan untuk beristirahat, dengan niat bangun malam melaksanakan sholat tahajud.

To be continue

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s