Beranda > Tausiyah > INDAHNYA MERAIH SURGA MELALUI BIRRUL WALIDAIN

INDAHNYA MERAIH SURGA MELALUI BIRRUL WALIDAIN

Oleh : Y A N T O, S.Pd.I

(Untuk Lomba Artikel Adzkia Indonesia)

Birrul Walidain; Ekspresi iman penuh makna.

Saudaraku, di tengah-tengah kehidupan yang serba canggih dan instan ini disadari atau pun tidak ternyata banyak di antara kita sebagai hamba yang beriman terkadang terlupakan akan satu hal yang sangat berarti dalam mengekspresikan keimanan kita kepada Allah. Bentuk ekspresi yang dimaksud adalah birrul walidain yakni berbakti kepada kedua orang tua. Birrul walidain adalah kewajiban yang Allah tempatkan kedudukannya setelah kita beribadah kepada-Nya dan rasul-Nya. Sebuah maqom khusus dimana sesungguhnya bukan hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban sebagaimana perintah Allah dalam firmannya Q.S Al Isra ayat 23 bahwa Allah memerintahkan kepada manusia agar beribadah hanya untuk-Nya dan berbuat baik kepada kedua orangtua dengan sebaik-baiknya, tetapi lebih dari itu dapat dimaknai bahwa birrul walidain sebagai ekspresi ketaqwaan dan keimanan, bukti kecintaan dan kesetiaan, wujud ketaatan, ketundukan dan kepatuhan, investasi nyata di masa yang akan datang (akhirat), serta perencanaan reuni abadi di surga penuh kebahagiaan hakiki. Oleh karenanya bakti ini harus terus diamalkan dan dimanifestasikan selama mereka orangtua kita masih hidup maupun setelah tiada.

 Birrul walidain juga merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan seseorang dari kobaran api neraka. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya yang menyatakan bahwa keridhaan Allah itu pada hakikatnya terletak pada keridhaan kedua orangtuanya dan kemurkaan-Nya pun terletak pada kemurkaan mereka. Sungguh teramat hebat dampaknya bagi kita terhadap apa yang diperbuat kepadanya. Membahagiakan kedua orangtua bukan sekedar membahagiakan mereka, tetapi justru membahagiakan diri sendiri karena barangsiapa yang bahagia dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya, maka dialah orang yang beriman.

Berbahagialah bagi yang berbakti kepada orangtua, ketika senyum di antara kita dengan orangtua merekah, saat do’a mereka mengiringi dalam setiap langkah, hanyalah ridho dari keduanya akan tergapai kehidupan yang senantiasa barokah, maka itulah kebahagiaan yang tidak terbeli dengan materi yang berlimpah. Apalagi jika teringat akan hadits Nabi bahwa berbakti atau durhaka kepada kedua orangtua itu adalah satu-satunya amalan yang segera tampakkan balasannya ketika di dunia. Wow, benar-benar luar biasa dahsyatnya. Oleh karenanya, mari kita buka memori, barangkali kita pernah mengalami untuk tidak memungkiri atas apa yang telah kita lakukan terhadap mereka.

 

Bagaimana birrul walidain dilakukan?

Tuntunan rabbani ini yakni birrul walidain diaplikasikan dalam bentuk berbakti kepada mereka, mematuhi selama perintah yang diberikan bukan untuk bermaksiat kepada Allah, merawat di kala mereka terkena sakit, mengucapkan kepada mereka dengan perkataan yang mulia, menjamin hak-hak mereka, memenuhi kebutuhan mereka adalah pusat kekuatan energi kehidupan yang menghidupkan hati agar lebih hidup penuh makna sejati. Kita pun mampu mengambil berbagai ibrah dari berbagai perilaku para salafus salih yang telah memberikan keteladanan kepada generasi demi generasi agar mencontoh pribadi mereka yang mulia.

Bentuk ketaatan dalam mematuhi perintah kepada orangtua harus dilaksanakan selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya. Sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada al-Khalik. Implementasi kesetiaan kepada mereka diwujudkan melalui menaati perintahnya, mendahulukannya dari fardhu kifayah dan sunnah. Bagi anak laki-laki yag sudah menikah pun harus lebih mengedapankan dan memprioritaskan berbakti kepada kedua orangtuanya, khususnya ibu, daripada istri dan anak-anaknya. Bahkan hak orangtua lebih besar dan lebih utama jika dibandingkan dengan hak-hak keluarga, hingga ketaatan kepada mereka pun harus didahulukan daripada jihad dan hijrah pada kondisi dan syarat tertentu memang harus seizin serta restu untuk mendapatkan ridhanya.

Selain itu terdapat bentuk ketaatan yang sudah seharusnya kita tunjukkan kepada orangtua dengan cara memberi nafkah dan memenuhi kebutuhan mereka, sebagaimana Rasulullah saw bersabda berdasarkan riwayat ad Dailami disebutkan bahwa “Ibu dan bapak berhak makan dari harta milik anak mereka dengan cara yang ma’ruf, adapun seorang anak tidak boleh makan dari harta ibu bapaknya kecuali dengan izin mereka”. Namun demikian orangtua tidak boleh dengan semena-mena menguasai harta anaknya untuk kepentingan pribadinya akan tetapi harus dengan cara yang adil. Pemberian nafkah kepada orangtua dalam memenuhi kebutuhan mereka juga terkandung maksud agar anak senantiasa menyambung tali silaturahim di antara mereka tentunya menghiasi kata-kata yang disampaikan kepada mereka dengan ungkapan perkataan yang mulia tidak mengatakan ‘uf” dan melakukan perbuatan mencela kepadanya, menyegerakan ketika mereka menyahut dan bermuka manis serta menyenangkan dalam bersilaturahim merupakan pintu kebahagiaan dan kegembiraan orangtua meskipun mereka masih berakidah musyrik maupun kafir. Hal ini pernah dicontohkan oleh sahabat Abu Hurairah dan Asma’ binti Abu Bakar kepada ibunya yang kala itu masih musyrik.

Ada pula birrul walidain diwujudkan dengan cara mendahulukan kepentingan mereka untuk melakukan yang terbaik bagi mereka daripada kepentingan dan kebutuhan diri sendiri. Seperti halnya Abu Ghassan yang diingatkan oleh sahabat Abu Hurairah dalam berbakti kepada kedua orangtuanya agar tidak membelakangi ayahnya, jangan mengambil tulang (yang dagingnya tinggal sedikit) yang dilihat oleh ayahnya barangkali ia menginginkannya, jangan memandangi dengan tajam kepada mereka, jangan tidur dan duduk mendahuluinya. Itu semua dilakukan oleh seorang anak sebagai manifestasi ketaatan dan pengorbanan untuk orang tua sampai-sampai di dalam hadits disebutkan Imam Muslim meriwayatkan bahwa seseorang baru dikatakan membalas kebaikan bapaknya, kala mendapati bapaknya menjadi budak, lalu dia beli dan dia bebaskan. Inilah paradigma bakti yang sebenarnya, kita curahkan perhatian dan kasih sayang kepada mereka.

Raih Surga Melalui Pintu Paling Tengah

Berbakti kepada orangtua adalah jalan menuju pintu surga yang paling tengah. Seperti halnya seorang salafus salih yang bernama Abdulah bin Mubarok menangis sejadi-jadinya dikarenakan ibunya meninggal dunia. Ketika beliau ditanya mengapa menangis, beliau menjawab bahwa dengan meninggalnya ibu berarti pintu surga yang tadinya dua pintu menjadi tinggal satu pintu yang ada pada ayahnya. Sedemikian berartinya orangtua bagi anak tentunya menginspirasikan untuk selalu berbuat yang terbaik agar senantiasa mendapatkan maghfirah (ampunan) dan surga yang telah dijanjikan oleh Allah. Hal ini dipertegas oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bahwa orangtua adalah pintu surge yang paling tengah. Terserah padamu, apakah kau sia-siakan pintu itu atau memeliharanya.

Siapa yang berbakti kepada mereka dialah yang akan mendapatkan energi. Yakni energi kebahagiaan yang sejati dan hakiki. Adapun bagi seseorang yang durhaka maka bersiap-siaplah untuk hidup sengsara penuh derita dan kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat nantinya.

  1. irnA
    Januari 14, 2013 pukul 5:26 am

    Alhamdulillah…..tambahan ilmu dan bekal utk akhirat….indya Allah aq dpt terapkan dlm kehidupan sehari2

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s