Beranda > Tausiyah > Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh

Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh

Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Alloh

Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak kita semua untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan semakin mengenalNya. Salah satu cara untuk mengenal Dzat yang Maha Berilmu adalah dengan mengenal diri kita sendiri. Mengapa demikian? Jawaban yang paling utama pastilah bersumber dari Al Quran. Alloh SWT menegaskan dalam Q.S. AdzDzariyat ayat 20-21 yang artinya : “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang yakin” (20), “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (21). Sangat penting untuk melandaskan pemikiran kita kepada ayat suci Al Quran, karena Al Quranlah sumber ilmu yang tidak ada keraguan di dalamnya. Meyakini kebenaran isi dan kandungan Al Quran bagi seorang muslim adalah sebuah harga mati.

Tulisan ini tidak akan membahas tafsir atau kandungan dari dua ayat di atas, tapi setidaknya menjadi landasan dan bingkai pemikiran menuju ke pembahasan yang lebih luas dan lebih mendekat terhadap ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang ilmiah menjadi pengantar bagi kita untuk mengenal diri kita. Tetapi berbeda dengan orang kafir yang meletakkan ilmu pengetahuan sebagai obyek yang terbebas dari nilai-nilai ruhani, tidak mengaitkan pengetahuan ilmiah dan hasil-hasil eksperimennya sebagai penguat keyakinan agama. Seorang muslim akan menempatkan pengetahuan yang telah terbukti secara ilmiah sebagai teropong untuk lebih mengenal kebesaran Dzat yang Maha Mengetahui. Seorang muslim dengan sepenuh hati menyadari bahwa kemampuan akal untuk menangkap fakta-fakta ilmiah, mengungkap keajaiban alam semesta, dan mengeksplorasi pengetahuan adalah anugerah Alloh SWT sebagai pengantar menuju keimanan yang lebih tinggi.

Pelajaran berharga dari sistem saraf

Jaringan saraf yang ada pada tubuh kita sendiri memberikan pelajaran berharga tentang kebesaran Alloh SWT. Sistem saraf manusia bisa jadi merupakan kumpulan materi yang diorganisasikan paling rumit di bumi ini yang membuat komputer yang paling rumit sekalipun kelihatan primitif. Sistem saraf inilah yang secara biologis membuat kita mampu belajar, berpikir, mengingat, dan menjadi sadar akan diri kita sendiri dan lingkungan di sekitar kita.

Kemampuan manusia untuk melakukan aktivitas baik fisik maupun intelektual yang didukung oleh sistem saraf mungkin menjadikan sebagian manusia merasa memiliki daya dan kekuatan untuk melakukan sesuatu. Bahkan manusia yang genius bisa jadi akan merasa bangga dengan kejeniusannya karena memiliki kapasitas berpikir yang lebih tinggi dari orang lain. Tetapi jika kita mengenali diri kita sendiri tentang sistem saraf, maka semestinya akan hilang semua kesombongan dalam diri kita. Mengapa demikian? Karena dalam perjalanan sistem saraf untuk menghasilkan suatu persepsi, pikiran, gerakan, atau output motoris harus melewati proses integrasi dalam Sistem Saraf Pusat (SSP) atau central nervous system. SSP terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang yang berfungsi untuk menerjemahkan informasi yang berasal dari stimulasi reseptor sensoris oleh lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon tubuh yang sesuai. Proses yang terjadi di dalam SSP adalah proses yang murni berlangsung di luar kesadaran dan kontrol manusia, bahkan manusia yang paling hebat sekalipun. Maka siapakah yang mengontrolnya? Bukanlah nenek moyang kita yang merancangnya, bukan pula orangtua kita, bukan para scientis, ahli biologi, peraih nobel  dan kita mengingat sepenuhnya bahwa bukan kita sendiri yang merancangnya. Tidak ada sama sekali peran manusia untuk membangun SSP yang mampu menghasilkan buah karya yang luar biasa. Karena hanya Alloh yang mampu melakukannya dengan mudah. Maka patutkah bagi manusia untuk merasa sombong dengan kedigdayaannya?

Otot polos dan otot lurik, apa hikmahnya?

Bagaimana dengan otot kita, yang membuat kita mampu bergerak dan berkarya. Otot yang nampu menggerakkan tangan kita untuk menghasilkan suatu produk. Otot yang menggerakkan kaki kita sehingga bisa berjalan kemanapun yang dikehendaki, dan semua aktivitas motoris yang kita lakukan dengan dukungan jaringan otot. Lalu mengapa sebagian manusia sampai membanggakan dirinya atas hasil karya tangannya dan hasil usahanya.

Mengenal diri sendiri tentang jaringan otot yang ada pada tubuh kita, dapat menguatkan pandangan hidup kita, bahwa betapa fakirnya kita di hadapan Alloh SWT. Pada saat makan, mengunyah, menelan, semua itu dilakukan dengan sengaja di bawah kontrol kesadaran. Kemampuan itu adalah anugerah Alloh yang telah menciptakan otot rangka atau otot lurik (skeletal muscle) yang bekerja di bawah pengaruh saraf sadar (somatic nervous system). Jika makanan telah kita telan, apa yang dapat kita lakukan di bawah kesadaran? Tugas selanjutnya telah diserahkan sepenuhnya kepada fungsi otot halus (smooth muscle) mulai dari kerongkongan (esophagus). Meskipun otot pada bagian paling atas esophagus adalah otot lurik (otot sadar) sehingga tindakan penelanan (ingestion) dimulai secara sadar, tetapi kemudian gelombang kontraksi tak sadar oleh otot polos pada sisa esophagus selanjutnya akan menggantikannya. Sampai ke lambung pada proses pencernaan (digestion) dan usus pada proses penyerapan (absorption) dilakukan oleh fungsi otot halus yang bekerja di bawah saraf tidak sadar.

Hanya sebagian kecil dari proses makan yang dilakukan secara sadar oleh manusia, sebagian besar dilakukan secara tanpa sadar di bawah kekuasaan Alloh SWT, yang telah merancang dan mendetailkan dengan tingkat ketelitian yang sempurna. Maka jika manusia memiliki energi untuk beraktivitas yang berasal dari nutrisi yang dimakannya, hanya sedikit proses yang dilakukan di bawah kontrol manusia, yaitu mulai dari bibir, rongga mulut, sampai sebatas tenggorokan bagian atas, tidak lebih dari itu. Lalu masihkan ada alasan yang bisa diungkapkan  untuk membantah kebesaran Alloh SWT.

Bisakah hidup tanpa Oksigen ?

Kemudian marilah beralih ke proses bernafas, pertukaran O2 dan CO2, bisa kita hitung hanya sedikit bagian yang bisa dilakukan secara sadar di bawah kontrol kesadaran. Demikian pula kerja organ yang paling vital yaitu jantung. Kapankan kita mengontrol jantung kita sehingga bisa berdenyut saat kita terbangun maupun saat kita tertidur. Kapankan kita mengontrol kecepatan denyut jantung kita, kapankan kita mengontrol proses pompa aliran darah yang kaya oksigen mengalir ke seluruh tubuh dan mengalirkan darah yang kaya CO2 menuju ke jantung dan dialirkan ke paru-paru menjadi darah yang kaya oksigen? Betepa vitalnya jantung untuk kehdiupan manusia, tapi manusia tak mampu mengontrolnya. Sebagian besar organ bekerja dan berfungsi dengan tanpa sadar, di luar kontrol manusia, padahal semua organ itu berada pada tubuhnya sendiri sebagai bagian dari dirinya sendiri, lalu apa yang patut untuk kita sombongakan di hadapan kebesaran Alloh SWT? Subhanalloh.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s